2027, Bank Indonesia Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,5 Persen
- calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
- print Cetak

Ilustrasi (Foto: Freepik)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan kisaran 5,1 hingga 5,9% dengan titik tengah 5,5%, seiring terjaganya stabilitas makroekonomi, peningkatan kredit perbankan, serta penguatan sinergi kebijakan fiskal dan moneter.
“Pertumbuhan kami perkirakan akan meningkat setelah tahun 2025 sekitar 4,7-5,5%. Tahun 2026 ini kami perkirakan pertumbuhan ekonomi berkisar antara 4,9-5,7% dengan titik tengah adalah 5,3% dan akan meningkat lagi menjadi 5,1-5,9% pada tahun 2027 dengan tentu saja titik tengah yang lebih tinggi 5,5%,” jelas Gubernur BI Perry Warjiyo dalam peluncuran Laporan Perekonomian Indonesia Tahun 2025 di Jakarta, Rabu, 28 Januari 2026.
Optimisme tersebut didorong oleh keyakinan bahwa stabilitas ekonomi tetap terjaga dan kebijakan yang ditempuh bersifat pro-stabilitas sekaligus pro-pertumbuhan. Salah satu faktor utama pendorong pertumbuhan ekonomi 2027 adalah stabilitas harga. BI memproyeksikan inflasi tetap terkendali pada sasaran 2,5% ±1% hingga 2027. Stabilitas inflasi ini membuka ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Dari sisi pembiayaan, pertumbuhan kredit perbankan diperkirakan terus meningkat. BI menargetkan pertumbuhan kredit pada 2026 berada di kisaran 8–12%, dan meningkat menjadi 9–13% pada 2027. Dorongan kredit ini ditopang oleh kebijakan makroprudensial yang longgar serta insentif likuiditas bagi perbankan yang menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas dan menurunkan suku bunga kredit.
“Kami pastikan kawan-kawan perbankan, likuiditas akan lebih cukup supaya Anda semua bisa menyalurkan kredit demi sektor riil,” imbuh Perry.

Gubernur BI Perry Warjiyo (Foto: Tangkapan Layar Youtube BI)
Bank Indonesia Komit Jaga Likuiditas
BI juga menegaskan komitmennya untuk menjaga likuiditas perbankan tetap memadai melalui ekspansi likuiditas moneter. Hingga saat ini, cadangan devisa Indonesia tercatat sebesar USD156,5 miliar dan akan terus dijaga serta ditingkatkan guna memperkuat ketahanan eksternal perekonomian nasional.
Selain kebijakan moneter dan pembiayaan, digitalisasi sistem pembayaran menjadi motor penting pertumbuhan ekonomi 2027. BI menargetkan 17 miliar transaksi digital pada 2026 dengan 60 juta pengguna QRIS, termasuk 45 juta pelaku UMKM. Ekosistem pembayaran digital juga diperluas ke delapan negara, memperkuat konektivitas ekonomi lintas batas.
Faktor lain yang dinilai krusial adalah sinergi lintas kebijakan dan sektor. BI menekankan pentingnya koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas dan mendorong pertumbuhan. Sinergi juga diarahkan pada penguatan hilirisasi dan industrialisasi, pengembangan ekonomi kerakyatan, pendalaman pasar keuangan, serta pembiayaan proyek-proyek strategis nasional (PSN).
Dengan fondasi stabilitas yang kuat, kebijakan yang akomodatif, dan sinergi yang diperkuat, Bank Indonesia meyakini ekonomi Indonesia pada 2027 tidak hanya tumbuh lebih tinggi, tetapi juga semakin berdaya tahan dan mandiri menghadapi dinamika global. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz


