Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » BTN Optimis Tambahan Likuiditas Habis di Akhir Tahun

BTN Optimis Tambahan Likuiditas Habis di Akhir Tahun

  • calendar_month Sabtu, 20 Sep 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

BANDUNG –  PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN memproyeksikan tambahan likuiditas Rp25 triliun yang telah resmi ditempatkan pemerintah akan terserap habis pada akhir 2025, seiring dengan terjaganya permintaan kredit di sektor perumahan. Perseroan telah menyiapkan sejumlah langkah untuk mengoptimalkan penyerapan dana tersebut.

Direktur Utama BTN, Nixon LP Napitupulu mengatakan langkah pemerintah untuk membantu perbankan dengan tambahan likuiditas cukup mengatasi kondisi persaingan yang ketat di antara bank-bank dalam memperoleh pendanaan, terutama yang berbiaya murah dalam beberapa waktu terakhir. Dengan adanya dana segar tambahan, maka persaingan berpindah ke upaya bank dalam menyalurkannya menjadi kredit.

“Langkah pemerintah ini telah memindahkan persaingan di likuiditas menjadi persaingan di kredit, karena dengan adanya tambahan dana Rp25 triliun, likuiditas tidak menjadi masalah lagi bagi BTN setidaknya dalam waktu 6 bulan. Saya perkirakan Desember (tahun ini) sudah habis terserap,” kata Nixon pada Media Gathering BTN 2025 bertema ‘Energi Baru BTN Perkuat Transformasi Berkelanjutan’ di Bandung, Jawa Barat, Jumat (19/9).

Perkiraan tersebut didasarkan pada perhitungan rerata penyaluran kredit per bulannya di bank tersebut. BTN mencatatkan penyaluran tersebut mencapai sekitar Rp6-7 triliun baik untuk melayani ekosistem perumahan yang cakupannya luas, maupun kredit non-perumahan yang saat ini juga menjadi salah satu motor realisasi pembiayaan di bank khusus perumahan itu.

“Realisasi kredit kami rata-rata saja sekitar Rp6-7 triliun per bulan, jadi kalau akhir tahun Rp25 triliun itu sudah nutup. Itu juga sesuai dengan rencana bisnis bank (RBB) kami,” ujar Direktur Finance and Strategy BTN, Nofry Rony Poetra.

Pemerintah melalui Kementerian Keuangan telah menyalurkan dana sebesar Rp200 triliun ke lima bank milik negara, dengan alokasi untuk BTN sebesar Rp25 triliun untuk disalurkan sebagai kredit ke sektor riil sehingga dapat menggairahkan perekonomian. Dana tersebut dapat digunakan selama jangka waktu enam bulan dan dapat diperpanjang.

Nixon menjelaskan bahwa injeksi likuiditas tersebut serupa dengan Program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) saat pandemi Covid-19 yakni ketika sejumlah dana pemerintah ditempatkan di bank-bank milik negara untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Saat itu, bank ini mendapatkan penempatan dana pemerintah sebesar Rp10 triliun untuk disalurkan sebagai kredit. Hasilnya, kata Nixon, ekonomi saat itu berangsur-angsur pulih dan bank-bank dapat mengembalikan dana tersebut ke negara setelah dua tahun.

Untuk konteks saat ini, dia menilai tambahan likuiditas Rp25 triliun sangat membantu perseroan untuk mempercepat realisasi atas pipeline kredit yang belum diakadkan.

Demand-nya justru sangat ada di BTN, pipeline (kredit) di kami sebenarnya Rp30 triliun lebih. Dengan adanya tambahan likuiditas ini, maka masalahnya selesai dan yang sudah ada di pipeline jadinya cepat diberi keputusan agar tidak pindah ke bank lain,” tuturnya.

Turunkan Biaya Dana

Lebih lanjut, BTN juga menilai tambahan likuiditas Rp25 triliun dapat memberikan dorongan lebih bagi perseroan untuk terus menurunkan biaya dana (cost of fund) terutama setelah Bank Indonesia (BI) memangkas suku bunga acuan (BI Rate) hingga 125 basis poin (bps) dalam satu tahun ke belakang. Sebagai langkah konkret, kata Nixon, BTN telah menurunkan bunga deposito special rate tidak lama setelah tambahan dana segar dari pemerintah diterima perseroan.

“Waktu Jumat (12 September) diputuskan oleh pemerintah, Senin (15 September) kami putuskan untuk menurunkan bunga special rate deposito 50 bps. Dana Rp25 triliun membantu BTN menurunkan suku bunga dana mahal dan kami akan memastikan special rate akan terus turun hingga akhir tahun,” ujarnya.

Pada akhirnya, Nixon meyakini langkah tersebut dapat berdampak positif pada profitabilitas BTN yang akan terefleksi pada margin bunga bersih (NIM) perseroan. Tren penurunan biaya dana di BTN belakangan juga telah berkontribusi pada NIM yang meningkat 139 bps ke level 4,4% hingga semester I-2025. (MRI)

 

 

  • Penulis: Muhammad Rinaldi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kemenko Perekonomian Dukung Proyek MRT Balaraja-Cikarang

    Kemenko Perekonomian Dukung Proyek MRT Balaraja-Cikarang

    • calendar_month Senin, 13 Des 2021
    • 0Komentar

    JAKARTA – Kementerian Koordinator bidang Perekonomian (Kemenko Perekonomian) melalui Komite Percepatan Penyediaan Infrastruktur Prioritas (KPPIP) mendukung pembangunan Proyek Strategis Nasional Mass Rapid Transit (PSN-MRT) East-West atau Timur-Barat yang melintasi tiga provinsi dan menghubungkan Balaraja (Banten) hingga Cikarang (Jawa Barat). “KPPIP tetap mendorong dan mendukung pembangunan PSN MRT East-West ini yang nantinya akan mendukung konektivitas antar […]

  • Biden Hapus Kebijakan Diskriminatif Sektor Perumahan

    Biden Hapus Kebijakan Diskriminatif Sektor Perumahan

    • calendar_month Minggu, 31 Jan 2021
    • 0Komentar

    Jakarta – Presiden Amerika Serikat Joe Biden meminta Kementerian Pembangunan Perumahan dan Perkotaan (Department of Housing and Urban Develoment/HUD) mengakhiri kebijakan yang diskriminatif dalam sektor perumahan dan pemberian pinjaman. Hal ini disampaikan oleh Joe Biden dalam Executive Order yang ditandatanganinya pada 27 Januari 2021. “Negeri ini siap untuk berubah, tapi Pemerintahannya juga harus berubah,” ujar Joe […]

  • Hamparan Tanah, Ilustrasi Tanah Terlantar (Foto: ADH)

    Yuk Cermati Objek Tanah Telantar dalam PP Baru

    • calendar_month Senin, 22 Feb 2021
    • 0Komentar

    Terbitnya aturan pelaksana dari Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2020 tentang Cipta Kerja mengubah konstelasi aturan main dalam banyak sektor, termasuk juga dalam industri properti. Berangkat dari hal tersebut redaksi industriproperti.com akan membedah masing–masing regulasi turunan UU Cipta Kerja yang berkelindan dengan industri properti. Jakarta – “Bermula dari banyaknya tanah yang diterlantarkan oleh pemegang hak, dimana […]

  • Natal dan Tahun Baru 2025

    Pemerintah Bersiap Hadapi Libur Natal dan Tahun Baru 2025

    • calendar_month Rabu, 18 Des 2024
    • 0Komentar

    Jakarta – Pemerintah menjalankan sejumlah strategi dalam upaya kesiapan jelang libur Natal dan Tahun Baru 2025 (Nataru). Persiapan itu antara lain untuk memperlancar pergerakan 110,67 juta orang terkait aktivitas mudik libur Nataru. “Kelancaran arus mudik Nataru dilakukan melalui penambahan panjang jalan non-tol dan jalan tol, peningkatan kemantapan jalan (termasuk zero pothole dan rehabilitasi jalan), peningkatan […]

  • pasar properti

    Ini Sebab Pasar Properti Indonesia Makin Positif

    • calendar_month Kamis, 24 Mar 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Sentimen konsumen properti terhadap pasar properti nasional makin positif. Hal ini terlihat pada temuan survei Rumah.com Consumer Sentiment Survey H1 2022, yang menunjukkan indeks sentimen properti naik 3 poin dari periode sebelumnya menjadi 72 poin. “Adanya kenaikan kepuasan terhadap iklim properti hunian saat ini didorong oleh peningkatan suplai properti yang tersedia di pasar, […]

  • kinerja hunian tapak

    Performa Properti Residensial Tak Tertahan Pasca Pemilu, Ini Alasannya

    • calendar_month Kamis, 22 Feb 2024
    • 0Komentar

    Jakarta – Penyelenggaraan Pemilihan Umum (Pemilu) sering kali menimbulkan kekhawatiran akan mempengaruhi performa sektor properti. Namun, tidak demikian untuk properti residensial yang memiliki resiliensi tinggi terhadap kondisi pemilu. “Dari result riset yang kami miliki untuk sektor residensial misalnya sektor residensial ini termasuk sektor yang punya resiliensi tinggi, punya daya tahan tinggi,” kata Senior Research Advisor […]

Translate »
expand_less