GREAT Institute Beberkan Sinyal Pelemahan Pasar Perumahan
- calendar_month Senin, 31 Agt 2026
- print Cetak

Ilustrasi pembelian perumahan tapak. (Foto: Freepik/jcomp)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Dalam laporan yang dikeluarkan GREAT Institute bertajuk “GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026: Membangun Kembali Kepercayaan, Menumbuhkan Optimisme” menyebut daya beli bukan hanya berkaitan dengan kemampuan masyarakat untuk melakukan konsumsi saat ini atau ability to spend, tetapi juga dengan kemauan untuk membelanjakan pendapatan atau willingness to spend.
“Rumah tangga tidak hanya melihat kondisi hari ini. Ketika keyakinan terhadap pendapatan dan pekerjaan ke depan mulai menurun, respons yang muncul biasanya adalah meningkatkan kehati-hatian, menunda pengeluaran yang tidak mendesak, dan mempertahankan tabungan lebih lama,” urai Peneliti Ekonomi GREAT Institute Trisha Devita Indraswari dalam keterangannya, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Tekanan daya beli masyarakat tidak hanya dapat dilihat dari konsumsi sehari-hari, tetapi juga dari keputusan rumah tangga untuk membeli barang dan aset bernilai besar (durable goods), terutama rumah dan kendaraan bermotor.
Pembelian jenis ini membutuhkan kapasitas finansial yang lebih kuat karena melibatkan pendapatan, tabungan, uang muka, serta keberanian mengambil komitmen keuangan jangka panjang. Karena itu, ketika rumah tangga mulai merasakan ketidakpastian terhadap pendapatan dan prospek ekonomi, salah satu respons yang paling mungkin terjadi adalah menunda pembelian aset yang tidak bersifat mendesak.
Sementara itu, Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira mengatakan, ketidakpastian kebijakan atau melemahnya kredibilitas institusi dapat mendorong rumah tangga menahan konsumsi, perusahaan menunda investasi, dan pasar meminta premi risiko lebih tinggi. Sebaliknya, kepastian kebijakan, data yang dipercaya, serta institusi yang bekerja secara konsisten dapat memperpanjang horizon keputusan ekonomi masyarakat dan dunia usaha.
“Optimisme tidak bisa diperintahkan. Ia harus dibangun. Pemerintah perlu menjaga konsistensi kebijakan, menjelaskan perubahan secara terbuka, memastikan data dapat dipercaya, dan merespons kritik dengan perbaikan. Kalau kepercayaan terjaga, rumah tangga berani mengambil keputusan, dunia usaha berani memperbesar investasi, dan pasar akan memberikan ruang yang lebih besar bagi ekonomi untuk tumbuh,” jelas Adrian.
Pelemahan Pasar Perumahan
Hasil Survei Harga Properti Residensial Bank Indonesia menunjukkan bahwa penjualan rumah primer masih terkontraksi 25,67 persen secara tahunan pada Triwulan I 2026 dan, meskipun membaik pada Triwulan II, masih terkontraksi 2,36 persen. Pada saat yang sama, harga rumah belum mengalami koreksi. IHPR nasional masih tumbuh positif 0,61 persen pada Triwulan I dan 0,69 persen pada Triwulan II 2026. Menurut GREAT Institute, pelemahan pasar perumahan saat ini lebih terlihat pada turunnya transaksi daripada turunnya harga: masyarakat menahan pembelian meskipun harga rumah relatif tetap rigid.
Tingginya porsi KPR yang mencapai 70,05% dalam pembelian rumah memperlihatkan keputusan membeli rumah sangat bergantung pada kemampuan rumah tangga memperoleh dan mempertahankan pembiayaan. Dalam konteks ini, perkembangan pertumbuhan KPR/KPA menjadi indikator penting untuk melihat apakah rumah tangga masih memiliki keberanian dan kapasitas untuk mengambil komitmen keuangan jangka panjang.
Sementara itu, dilihat dari pertumbuhan KPR/KPA, sejak Maret 2025 pertumbuhannya hanya single digit dan terus melemah hingga sekitar 4,5 persen (yoy) pada Juni 2026. Dengan demikian, perlambatan KPR memberikan sinyal bahwa keputusan mengambil pembiayaan rumah mulai semakin ditahan oleh rumah tangga.
Apabila melihat Data Kementerian Keuangan mengenai realisasi penjualan rumah komersial, menunjukkan bahwa penjualan Semester I 2026 hanya mencapai 9.618 unit, jauh di bawah 19.731 unit pada periode yang sama 2025. Alhasil dapat dikatakan bahwa, penjualan rumah komersial turun sekitar 51 persen secara tahunan.
Menurut GREAT Institute, hal ini mengkonfirmasi bahwa adanya pergeseran perilaku konsumen yang menjadi lebih selektif dan menunggu kepastian ekonomi yang lebih baik. Jika kedua indikator tersebut dibaca bersama, gambarnya menjadi lebih kuat. Baik kelompok MBR maupun kelompok masyarakat yang membeli rumah komersial sama-sama menunjukkan penurunan pembelian rumah.
Pada kelompok MBR, pembelian rumah melalui FLPP turun, sementara pada pasar komersial penjualan rumah juga jatuh tajam. Ini mengindikasikan bahwa persoalannya tidak semata-mata terletak pada harga rumah atau keterbatasan subsidi, tetapi juga pada keputusan rumah tangga untuk menggunakan pendapatan dan mengambil komitmen finansial besar di tengah ketidakpastian.
GREAT Institute memberikan beberapa sinyal yang perlu diperhatikan terkait sektor perumahan, seperti Harga rumah masih tumbuh, tetapi transaksi melemah; pertumbuhan KPR/KPA melambat; pembelian rumah melalui FLPP turun; dan penjualan rumah komersial juga jatuh tajam. Rangkaian indikator tersebut menunjukkan bahwa tekanan daya beli mulai muncul bukan hanya dalam bentuk berkurangnya konsumsi saat ini, tetapi dalam bentuk meningkatnya kehati-hatian rumah tangga dalam mengambil keputusan konsumsi dan investasi yang bernilai besar serta berjangka panjang.
Dengan demikian, pelemahan pembelian aset bernilai besar perlu dibaca sebagai salah satu tanda bahwa masyarakat mulai lebih berhati-hati menggunakan sumber daya finansialnya. Ini penting karena rumah merupakan bentuk konsumsi sekaligus investasi jangka panjang rumah tangga. Jika kecenderungan menunda pembelian rumah terus berlangsung, maka persoalannya bukan hanya mengenai kinerja sektor properti, tetapi juga mengenai seberapa kuat daya beli dan keyakinan rumah tangga menopang pertumbuhan ekonomi dari sisi konsumsi. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz
