Ketua REI Terpilih adalah ‘Orang Lemah’

0
446

Lombok – Ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPD REI) Nusa Tenggara Barat terpilih masa bakti 2020 – 2023, Heri Susanto, menegaskan, Ketua REI NTB adalah sosok orang paling lemah di organisasi profesi ini. Pasalnya, figur terpilih itu adalah orang yang diperintahkan oleh anggota REI untuk paling depan dalam memperjuangkan kebutuhan anggotanya.

“Yang menjadi Ketua REI adalah paling lemah diantara kita semua. Kenapa? Orang kuat bisa menyuruh orang lain untuk menjadi ketua. Sebaliknya yang terpilih sebagai ketua adalah orang yang paling lemah,” kata Ketua DPD REI NTB, saat kembali didapuk sebagai Ketua DPD REI NTB, pada sambutan penutupan Musyawarah Daerah (Musda) IX REI NTB, di Hotel Santika Mataram, Lombok, Sabtu, 19 Desember 2020.

Pernyataan hiperbola Heri Susanto itu untuk menekankan bahwa jabatan ketua di organisasi profesi bagi pengembang adalah wakaf bagi pengembangan organisasi. “Saya tidak punya daya, akhirnya mengiyakan saja. Alhamdulillah dalam situasi ini kita masih sempat mengadakan musda dan menghasilkan kepengurusan REI NTB yang baru,” bebernya.

Keikhlasan Heri Susanto dalam menjalankan amanat memimpin REI NTB berbuah manis, dia kembali dipilih secara aklamasi dalam musda di pengujung 2020. Tidak hanya itu, bahkan Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) REI Paulus Totok Lusida, ikut memuji etos kerja serta kepemimpinan Heri Susanto di DPD REI NTB.

“Keikhalasan dan pengabdian Heri Susanto bagi REI NTB patut diapresiasi dan bisa menjadi contoh. Sebab atensi beliau untuk anggota REI NTB sangat luar biasa. Diharapkan masa bakti berikutnya bisa meningkatkan sinergi antara anggota REI dengan pemangku kepentingan di sektor perumahan,” kata Totok.

Pengembang Hunian

Baca juga :  KPR Syariah Makin Kinclong di Kalangan Muda

Ada hal yang unik pada tema musda yang diusung REI NTB. Jika semua orang bicara efek pandemi corona virus disease 2019 (covid-19), maka Musda IX REI NTB kali ini justru mengusung konsep lebih humanis dan bernuansa kepedulian terhadap lingkungan. Adapun tema musda ini adalah; “Sejuta Rumah, Sejuta Pohon untuk Masyarakat Berpenghasilan Rendah”.

Menurut Heri, ketika dimana-mana semua orang bicara dampak pandemi, selalu bicaranya adalah kesulitan demi kesulitan. Kami tidak ingin bicara kesulitan itu. “Kami ingin berbagi dengan masyarakat, sebuah rumah dan sebuah pohon. Sebab, pohon itu menjadi simbolisasi bahwa beranjak dari hunian itulah masa depan bangsa ini akan tercipta,” tegasnya.

Menanggapi tematik yang diangkat Musda IX REI NTB, Totok mengungkapkan, bahwa REI tidak hanya membangun rumah. “Dalam penyelenggaraan pembangunan perumahan, anggota REI tidak hanya membangun rumah, melainkan mengembangkan suatu lokasi menjadi hunian. Pencanangan Program Sejuta Rumah Sejuta Pohon untuk MBR yang dicanangkan REI NTB patut kita contoh,” tegas Totok.

Dalam pelaksanaannya, lanjut Heri, program ini akan bekerjasama dengan Dinas Kehutanan Provinsi NTB untuk penyediaan bibit pohon. “Untuk setiap rumah yang dibangun anggota REI NTB, akan ditanam sebatang pohon,” pungkasnya. (BRN)

EnglishIndonesian