Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Butuh Insentif Dorong Minat Masyarakat Tinggal di Apartemen

Butuh Insentif Dorong Minat Masyarakat Tinggal di Apartemen

  • calendar_month Senin, 5 Mei 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA – Meski insentif Pajak Pertambahan Nilai Di Tanggung Pemerintah (PPN DTP) terus diperpanjang untuk penyerahan rumah tapak dan rumah susun atau apartemen, namun pasar hunian vertikal masih tak berdaya. Sebagian besar pengembang juga masih menunda pembangunan proyek apartemen baru, penyerapan unit rendah dan harga sewa cenderung stabil.

Riset yang dilakukan Colliers Indonesia mengungkapkan minimnya peluncuran proyek apartemen baru berkorelasi dengan banyaknya inventory apartemen yang belum terjual yakni mencapai sekitar 27.000 unit di kuartal I-2025. Penyerapan berada di level 87,8%, dimana dari total 162 unit yang terjual di kuartal pertama tahun ini, sekitar 90% merupakan proyek eksisting (yang sudah terbangun). Sementara itu, dalam tiga tahun terakhir, yield sewa apartemen relatif stabil di besaran 4%.

Sedangkan Knight Frank Indonesia memperkirakan pergerakan transaksi apartemen masih belum agresif di 2025. Pelemahan pasar tercermin dari 31% proyek apartemen yang menunda pembangunan. Hingga akhir 2024, dilaporkan masih terdapat banyak unit apartemen eksisting yang belum terserap pasar, mayoritas di apartemen menengah yang berlokasi di luar kawasan pusat bisnis atau central business district (CBD) Jakarta.

Menanggapi pasar apartemen yang masih lesu tersebut, Presiden Direktur Riyadh Group Indonesia, Bally Saputra Datuk Janosati mengatakan meski saat ini ada insentif PPN DTP, namun pasar belum merespons dengan baik. Penjualan unit apartemen tidak banyak bergerak, bahkan penyerapannya semakin menurun. Alasan itu membuat pengembang juga enggan untuk melakukan pembangunan proyek apartemen baru.

“Butuh lebih banyak stimulus dari pemerintah terutama di Jakarta agar pasar apartemen kembali bergerak. Insentif PPN DTP mungkin membantu daya beli konsumen, tetapi itu tidak cukup. Butuh keringanan dan kemudahan tinggal yang lainnya agar masyarakat kembali berminat membeli dan tinggal di apartemen,” ungkap Bally di Jakarta, Senin (5/5).

Menurutnya, masyarakat juga perlu diberikan kemudahan untuk tinggal di apartemen seperti tarif listrik dan air bersih rumah tangga yang ringan, penghapusan Pajak Bumi Bangunan (PBB) untuk unit apartemen seharga di bawah Rp2 miliar, serta subsidi Iuran Pemeliharaan Lingkungan (IPL) atau service charge untuk apartemen seharga di bawah Rp1 miliar.

bally saputra

Bally beralasan, Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta, Jawa Barat maupun Banten memiliki Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) yang besar dan cukup mampu untuk memberikan subsidi IPL untuk apartemen menengah dan bawah. Dia mengasumsi, kalau ada sekitar 200.000 unit apartemen yang disubsidi maksimal Rp20.000 per m2 atau maksimal Rp1 juta per unit, maka hanya butuh dana APBD sebesar Rp200 miliar setiap bulannya.

Nantinya, setelah lima tahun subsidi IPL bisa diturunkan bertahap menjadi 50% hingga masyarakat penghuni merasakan manfaat dan nyaman tinggal di apartemen, termasuk dapat menikmati biaya transportasi yang irit dan efisiensi waktu. Dengan begitu, ungkapnya, masyarakat perkotaan khususnya di Jabodetabek semakin menyukai tinggal di hunian jangkung di tengah kota daripada terus “menyingkir” ke pinggiran.

“Anggaran untuk subsidi IPL juga tidak berat, karena jika melihat SiLPA (Sisa Lebih Pembiayaan Anggaran) Provinsi DKI Jakarta setiap tahunnya hampir Rp5 triliun. Bahkan kalaupun lima tahun mendatang sudah dibangun 5 juta unit apartemen di kota termasuk di Jabodetabek, dana subsidi IPL yang dibutuhkan hanya sekitar Rp5 triliun per tahun,” ungkap Bally yang juga Sekretaris Badan Pertimbangan Organisasi (BPO) DPP Realestat Indonesia (REI) tersebut.

Dengan adanya stimulus dari pemerintah untuk listrik, air bersih, PBB dan IPL untuk penghuni apartemen, maka diyakini pasokan apartemen akan meningkat dan daya serap pasarnya tinggi. Kebijakan untuk mempermudah masyarakat tinggal di apartemen sangat penting, sehingga pemerintah dapat mendorong warga kota tinggal di hunian vertikal untuk efisiensi penggunaan lahan kota bagi tempat tinggal.

Di Malaysia, budaya tinggal di apartemen sudah berhasil dilakukan pemerintah setempat dengan memberikan kemudahan tinggal. Meskipun masyarakat di negeri jiran tersebut juga sudah terbiasa tinggal di landed house (rumah tapak) seperti halnya di Indonesia. Dengan tingginya minat untuk tinggal di apartemen, dampaknya akan membantu mengurangi kemacetan lalu lintas dan waktu tempuh lebih efisien karena masyarakat bisa berangkat kerja dengan menggunakan transportasi massal seperti MRT, LRT atau KRL.

Kajian Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPJT) menyebutkan kerugian ekonomi yang ditimbulkan dari kemacetan lalu lintas Jakarta mencapai Rp71,4 triliun setiap tahunnya, dan yang paling merasakan dampak kerugian akibat kemacetan tersebut adalah masyarakat.

Apartemen di Perkotaan

Terkait dengan pembangunan 1 juta rumah di perkotaan setiap tahun yang merupakan bagian dari target Program 3 Juta Rumah, Bally menegaskan pembangunan hunian untuk masyarakat berpenghasilan rendah di negara manapun menjadi urusan pemerintah.

Di Indonesia, Undang-Undang No 1 tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan Permukiman menegaskan pemerintah pusat dan pemerintah daerah bertanggungjawab atas penyelenggaraan perumahan termasuk menyediakan rumah bagi masyarakat. Meski begitu, ujarnya, pemerintah dapat melibatkan dan mengajak bicara asosiasi pengembang untuk membantu dalam penyediaan rumah.

“Pengembang lokal mau kok membantu kalau pemerintah menyiapkan regulasinya secara sehat termasuk untuk 1 juta unit rumah vertikal di perkotaan. Tapi kalau aturan dan skimnya saja enggak jelas, bagaimana pengembang swasta mau investasi?,” ujarnya.

Menurut Bally, developer lokal sanggup untuk membangun Program 3 Juta Rumah termasuk membangun hunian di perkotaan. Karenanya, pemerintah tidak perlu susah payah mencari developer asing untuk merealisasikan target 3 juta rumah per tahun. Yang terpenting, tegasnya, ada kesamaan visi dan misi pemerintah dan pengusaha/developer lokal untuk saling bersinergi mewujudkan program mulia dari Presiden Prabowo Subianto tersebut. (MRI)

 

 

 

  • Penulis: Muhammad Rinaldi

Rekomendasi Untuk Anda

  • UUCK Diharap Bawa Dampak Positif terhadap Industri Properti

    UUCK Diharap Bawa Dampak Positif terhadap Industri Properti

    • calendar_month Jumat, 6 Nov 2020
    • 0Komentar

    JAKARTA – Undang-Undang Cipta Kerja atau UUCK ditujukan untuk menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan investasi melalui kemudahan perizinan. Iklim investasi yang sehat juga diperjuangkan para pelaku usaha properti yang dimotori Realestat Indonesia (REI), Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Properti dan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Properti. Usaha dan perjuangan sudah dilakukan ketiga asosiasi ini pagi-siang dan […]

  • pengembang optimis

    Pengembang Tetap Optimis Meski Inflasi Naik

    • calendar_month Sabtu, 9 Jul 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Pengembang properti masih optimis meski angka inflasi terus merangkak naik, yang pada Juni 2022 menyentuh angka 4,35% (yoy). Sektor properti telah menunjukkan tanda-tanda kebangkitan meski belum bisa kembali normal seperti dua tahun lalu. “Seperti yang sudah kita ketahui, sektor properti sekarang sudah mulai menggeliat kembali walaupun belum kepada posisi yang semula. Tapi, bagaimanapun […]

  • Kawasan Uluwatu Siap Tampung Wisatawan

    Kawasan Uluwatu Siap Tampung Wisatawan

    • calendar_month Selasa, 3 Mei 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Kawasan Wisata Uluwatu, Kabupaten Badung, Bali, siap menerima kedatangan wisatawan pada masa libur lebaran 2022. “Hal ini terbukti dari kesiapan standar operasional berbasis CHSE seperti kebersihan, keamanan, toilet, penerapan protokol kesehatan, serta pemberlakuan tiket elektronik,” kata Sekretaris Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Ni Wayan Giri Adnyani, dalam siaran persnya, […]

  • Kementerian PUPR Gandeng Kejaksaan RI Pantau Pembangunan IKN

    Kementerian PUPR Gandeng Kejaksaan RI Pantau Pembangunan IKN

    • calendar_month Selasa, 25 Okt 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melibatkan Kejaksaan RI untuk memantau sejumlah proyek pembangunan di Ibu Kota Nusantara (IKN), di Provinsi Kalimantan Timur. “Kementerian PUPR memiliki banyak pekerjaan dengan jadwal yang padat. Kita mengupayakan semua pekerjaan selesai sesuai target dan harus memberikan manfaat langsung pada masyarakat dengan memperhatikan kualitas dan estetika,” tutur Inspektur […]

  • Sektor Konstruksi Pacu Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV 2023

    Sektor Konstruksi Pacu Pertumbuhan Ekonomi Triwulan IV 2023

    • calendar_month Selasa, 6 Feb 2024
    • 0Komentar

    Jakarta – Pertumbuhan ekonomi nasional pada Triwulan IV-2023 mencapai 5,04% (year on year/yoy), atau lebih tinggi ketimbang Triwulan III-2023 sebesar 4,94% (yoy). Sektor konstruksi mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,68% (yoy) yang memberikan kontribusi pertumbuhan terbesar kedua setelah industri pengolahan. Secara tahunan, pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang tahun 2023 juga mencatatkan pertumbuhan sebesar 5,05% (ctc). “Kalau lihat, maka […]

  • Pacu Energi Hijau, Pertamina Kembangkan PLTS di 99 SPBU

    Pacu Energi Hijau, Pertamina Kembangkan PLTS di 99 SPBU

    • calendar_month Selasa, 23 Nov 2021
    • 0Komentar

    Jakarta – PT Pertamina New Renewable Energy (PNRE) Subholding, anak usaha PT Pertamina (Persero) memacu pengembangan energi hijau berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di 99 lokasi SPBU. Komitmen itu dalam upaya mendukung transisi energi hijau di internal perseroan.    Seluruh SPBU itu merupakan SPBU COCO (company own company operate) yang tersebar di Sumatera Utara, Sumatera Barat, Riau, […]

Translate »
expand_less