Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Problem Perumahan, Ini Pemikiran The HUD Institute di Ultah ke-15

Problem Perumahan, Ini Pemikiran The HUD Institute di Ultah ke-15

  • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta – Integrasi data, penguatan kelembagaan, penataan kawasan, serta pendekatan keadilan sosial menjadi bagian dari upaya pembenahan secara menyeluruh sektor perumahan dan permukiman. Hal ini sangat krusial guna menjawab persoalan backlog, urbanisasi, serta ketimpangan akses hunian layak di Indonesia. Topik tersebut mengemuka dalam acara Tasyakuran ke-15 The HUD Institute, di BSD City, Rabu, 14 Januari 2026.

Perumahan dan pengembangan kawasan bukanlah isu marginal. Ia adalah urusan strategis negara. Di banyak negara maju, housing and urban development dikelola sebagai urusan publik yang melembaga, bukan sekadar proyek ekonomi.

Di Amerika Serikat, misalnya, terdapat Department of Housing and Urban Development (HUD). Hal serupa juga terjadi di Singapura dengan Housing and Development Board (HDB), Housing and Urban Development Corporation yang kemudian berevolusi menjadi Urban Renaissance Agency di Jepang, serta Korea Land and Housing Corporation di Korea Selatan.

“Hampir tidak ada negara maju yang tidak memiliki sistem perumahan dan pengembangan kawasan yang kuat. Perumahan yang sehat bukan hanya soal bangunan, melainkan soal bagaimana masyarakat mencapai modernitas secara bermartabat. Di sinilah peran akademisi, profesional, dan lembaga kajian menjadi sangat penting,” ungkap Suharso Monoarfa, Ketua Majelis Tinggi The HUD Institute.

Dalam forum yang dihadiri para pemangku kepentingan lintas sektor, pemerintah, akademisi, dan praktisi, para pembicara menyoroti bahwa perumahan bukan semata persoalan fisik bangunan, melainkan bagian dari sistem pembangunan sosial, ekonomi, dan tata kota.

Data Jadi Fondasi Kebijakan Perumahan

Salah satu isu utama yang mengemuka adalah lemahnya basis data perumahan nasional. Saat ini, berbagai lembaga menggunakan metodologi berbeda, sehingga menghasilkan angka backlog yang tidak seragam dan sulit dijadikan dasar kebijakan jangka panjang.

Fahri Hamzah, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman menekankan bahwa data perumahan harus dikalibrasi ulang agar mampu membedakan jenis kebutuhan masyarakat, mulai dari backlog kepemilikan, backlog kelayakan, hingga kelompok paling rentan yang tinggal di hunian tidak layak di kawasan kumuh, bantaran sungai, atau wilayah rawan.

“Kalau data kita tidak solid, maka kebijakan kita akan selalu meleset. Kita harus tahu siapa yang paling rentan, di mana mereka tinggal, dan seperti apa kondisi riilnya,” tegas Wamen PKP.

Fahri juga menyoroti pentingnya pemetaan digital berbasis visual untuk menilai kelayakan hunian, termasuk akses terhadap sanitasi, air bersih, dan infrastruktur dasar lainnya. Janji pembangunan 3 juta rumah, lanjutnya, tidak boleh dipersempit hanya pada pembangunan unit baru. Program ini perlu mencakup renovasi rumah tidak layak huni, penataan kawasan kumuh, serta penyediaan hunian vertikal di perkotaan.

Perlunya Lembaga & Infrastruktur Terintegrasi

Gagasan pembentukan lembaga khusus yang mengintegrasikan sisi suplai dan permintaan perumahan sebagai bentuk upaya percepatan pembangunan program 3 juta rumah juga mengemuka. Lembaga dengan nama Badan Percepatan Pembangunan Perumahan Rakyat (BP3R) ini diharapkan tidak hanya mengurus pembangunan, tetapi juga pertanahan, perizinan, pembiayaan, penghunian, dan pengelolaan aset.

“Integrasi supply–demand tidak hanya soal teknis, tetapi juga soal keadilan. Tanpa antrian yang disiplin, tanpa basis data yang transparan, tanpa sistem seleksi yang akuntabel, program perumahan akan selalu rawan salah sasaran. Sistem perumahan yang sehat menuntut kepastian: siapa yang berhak, di mana mereka tinggal, bagaimana mereka membayar, dan bagaimana negara menjamin keberlanjutannya,” papar Fahri.

database perumahan

Wamen Fahri Hamzah sebut pentingnya ketersediaan database dalam program perumahan nasional (Foto: Oki Baren)

Isu lain yang disoroti adalah lemahnya integrasi antara pembangunan perumahan dengan infrastruktur dasar seperti air minum, sanitasi, jalan, dan transportasi publik. Banyak proyek hunian yang akhirnya tidak dihuni karena minim akses layanan dasar.

Wakil Menteri Pekerjaan Umum Diana Kusumastuti menegaskan bahwa ke depan, pembangunan kawasan perumahan harus terhubung langsung dengan jaringan air bersih, sanitasi aman, dan transportasi massal. Pemerintah daerah juga diminta berperan lebih aktif dalam memastikan keterpaduan layanan ini.

“Dukungan, komitmen, kolaborasi, dan sinergi dari seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, akademisi, swasta dan berbagai lapisan masyarakat sesuai dengan peran dan kewenangan masing-masing diperlukan untuk mewujudkan penyediaan akses sanitasi aman untuk semua,” ujarnya.

Pada kesempatan yang sama, Jehansyah Siregar, dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institute Teknologi Bandung (ITB) menyoroti pengembangan hunian dan backlog kelayakan yang terkonsentrasi dalam bentuk permukiman kumuh di kawasan perkotaan,

Kawasan-kawasan ini bukan muncul karena kemalasan warga, melainkan karena kegagalan sistemik: ketimpangan akses lahan, mahalnya harga rumah formal, lemahnya transportasi publik, serta minimnya intervensi negara dalam penyediaan hunian terjangkau.

Permukiman kumuh seringkali berdiri di ruang-ruang yang dianggap tidak layak: bantaran sungai, sepadan pantai, rel kereta, kolong jembatan, atau kawasan rawan bencana. Namun, bagi penghuninya, tempat-tempat itu adalah satu-satunya pilihan yang tersedia.

“Penanganan kawasan kumuh tidak boleh lagi dilakukan dengan logika penggusuran. Pendekatan seperti itu hanya memindahkan kemiskinan, bukan menguranginya. Kebutuhannya adalah penataan berbasis kawasan, konsolidasi lahan, pembangunan vertikal yang manusiawi, serta skema relokasi yang adil dan partisipatif,” pungkas Jehansyah. (BRN)

 

Penulis

Editor di industriproperti.com ini punya secuil pengalaman menulis di beberapa perusahaan media, baik cetak maupun online. Ayah dua anak yang hobi berburu kuliner lokal saat traveling ini sudah cukup lama bersentuhan dengan dunia properti. Bagi sahabat IP yang ingin kenal lebih jauh Sarjana Biologi Universitas Lampung bisa follow Instagram @oki_baren

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kementerian ATR/BPN Tambah SDM Penilai Pertanahan Profesional

    Kementerian ATR/BPN Tambah SDM Penilai Pertanahan Profesional

    • calendar_month Rabu, 13 Apr 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Kebutuhan pasar terhadap profesi Penilai Pertanahan masih sangat besar. Saat ini sumberdaya manusia (SDM) Penilai Pertanahan masih sangat minim yakni 284 orang yang tersebar di sembilan provinsi. Itu pun terkonsentrasi terutama hanya di Indonesia bagian barat. “Peran strategis tersebut akan terus berkembang. Dalam rangka memenuhi kebutuhan akan Penilai Pertanahan dan tersebar merata di seluruh […]

  • paradise indonesia

    Paradise Indonesia Pede Tumbuh Double Digit Tahun Ini

    • calendar_month Kamis, 1 Agt 2024
    • 0Komentar

    Jakarta – PT Indonesian Paradise Property Tbk (INPP:IJ) menargetkan pertumbuhan double digit di 2024 setelah menunjukkan kinerja yang kuat di seluruh divisi komersial dan perhotelan di awal tahun. “Pengembangan properti adalah bisnis jangka panjang, dan kami memiliki pengalaman yang cukup untuk memahami bahwa keberlanjutan adalah kunci untuk memastikan kesuksesan masa depan dan keberlangsungan bisnis,” kata […]

  • Pemerintah dan DPR Setujui RUU Pembentukan Provinsi di Papua

    Pemerintah dan DPR Setujui RUU Pembentukan Provinsi di Papua

    • calendar_month Rabu, 29 Jun 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Pemerintah bersama Komisi II Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI menyetujui tiga Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang pembentukan provinsi di Papua. Ketiga RUU itu yaitu RUU Provinsi Papua Selatan, RUU Provinsi Papua Tengah dan RUU Provinsi Papua Pegunungan. “Komisi II DPR menyetujui penyampaian ini dan akan kami teruskan kepada pembahasan tingkat II pada rapat paripurna yang […]

  • Kebijakan Pembiayaan Perumahan Belum Memihak MBR Informal

    Kebijakan Pembiayaan Perumahan Belum Memihak MBR Informal

    • calendar_month Kamis, 31 Mar 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Sejumlah kalangan menilai bahwa kebijakan pembiayaan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) di sektor informal masih sangat minim. Untuk itu, perlu adanya upaya nyata dalam bentuk kebijakan, instrumen, serta alokasi guna mewujudkan kebijakan publik pembiayaan perumahan bagi kelompok MBR sektor informal. Harus ada dokumen peta jalan (roadmap) ekosistem pembiayaan perumahan yang mengintegrasikan lembaga pembangunan […]

  • Siapkan Dana Jangka Panjang, BTN Syariah Terbitkan Sukuk Tapera

    Siapkan Dana Jangka Panjang, BTN Syariah Terbitkan Sukuk Tapera

    • calendar_month Kamis, 17 Agt 2023
    • 0Komentar

    JAKARTA – Sejalan dengan proses bisnis kerjasama penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) Tapera, PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk merilis Sukuk Mudharabah Jangka Panjang yang dilakukan Tanpa Melalui Penawaran Umum BTN I tahun 2023 Tahap I (Sukuk Tapera) perdana di Jakarta, Rabu (16/8). Penerbitan Sukuk Tapera tersebut berlandaskan Peraturan BP Tapera No 6 Tahun 2023 […]

  • YLKI: Aduan Permasalahan Perumahan di 2020 Turun

    YLKI: Aduan Permasalahan Perumahan di 2020 Turun

    • calendar_month Jumat, 8 Jan 2021
    • 0Komentar

    Jakarta – Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) mencatat adanya penurunan persentase pengaduan masalah perumahan sepanjang tahun 2020 dibandingkan dua tahun sebelumnya. “Pengaduan permasalahan sektor perumahan tahun 2020 sebesar 5,7%. Angkanya turun dibandingkan tahun sebelumnya yakni sebesar 14,3 persen pada tahun 2019 dan 21 persen di tahun 2018,” demikian disampaikan Ketua Pengurus Harian YLKI, Tulus Abadi, […]

Translate »
expand_less