REI DKI Jakarta Dorong Pengembang Kelas Menengah Masuk Pasar Modal
- calendar_month Selasa, 24 Feb 2026
- print Cetak

REI DKI Jakarta bekerja sama dengan PT Bursa Efek Indonesia menggelar workshop edukatif untuk mendorong anggotanya memanfaatkan instrumen pasar modal (Foto: REI DKI Jakarta)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) DKI Jakarta berkolaborasi dengan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) menggelar workshop edukatif. Kegiatan itu bertujuan mendorong pengembang properti memanfaatkan pasar modal sebagai instrumen alternatif pembiayaan jangka panjang di tengah tantangan pasar properti yang kian dinamis.
Kecenderungan sektor perbankan lebih berhati-hati terhadap sektor properti terutama pascapandemi. Akibatnya, baik pengembang maupun calon konsumen menghadapi keketatan tingkat persetujuan kredit. Padahal, struktur pembiayaan pengembang selama ini masih bertumpu pada 30:70. Yakni 30 persen modal pengembang, dan sebesar 70 persen sisanya merupakan dukungan pembiayaan perbankan.
“Industri properti memiliki siklus proyek yang panjang dan kebutuhan modal kerja yang besar. Dalam kondisi pasar yang fluktuatif, ketergantungan pada pembiayaan perbankan saja tidak lagi cukup untuk menopang pertumbuhan jangka panjang,” ujar Ketua DPD REI DKI Jakarta, Arvin F. Iskandar, pada workshop bertema “Solusi Percepatan Pendanaan Non Bank Melalui Pasar Modal”, di Main Hall BEI, Jakarta, Senin, 23 Februari 2026.
Kondisi tersebut lanjut Arvin menjadi alasan utama REI DKI Jakarta menghadirkan workshop ini, guna membuka wawasan bahwa pasar modal dapat menjadi alternatif pembiayaan jangka panjang, baik melalui penerbitan saham (equity) maupun surat utang seperti obligasi dan Efek Bersifat Utang dan/atau Sukuk (EBUS).
“Kami memahami masih ada keraguan di kalangan pengembang, terutama skala menengah, karena proses go public dipersepsikan kompleks dan butuh kesiapan tata kelola serta transparansi yang tinggi. Padahal akses itu sebenarnya terbuka,” ujarnya.
Di BEI, terdapat tiga papan pencatatan saham, yakni Papan Utama, Papan Pengembangan, dan Papan Akselerasi. Dua papan terakhir dinilai lebih sesuai bagi perusahaan skala menengah dengan persyaratan yang lebih adaptif.
Menurut Arvin, target realistis sekitar 5 persen pengembang skala menengah anggota REI DKI Jakarta mulai menjalankan proses menuju pasar modal pada periode 2026–2028. Estimasi tersebut setara dengan sekitar 25 perusahaan.
“Jika satu perusahaan dapat menghimpun dana Rp100 miliar hingga Rp200 miliar, maka secara agregat potensi pendanaan yang masuk ke perusahaan pengembang sedikitnya mencapai Rp5 triliun. Ini belum termasuk pengembang besar yang telah lebih dahulu aktif di pasar modal,” jelasnya.
Saat ini terdapat sekitar 92 perusahaan sektor properti yang tercatat di bursa. REI DKI Jakarta berharap jumlah tersebut terus bertambah, khususnya dari kalangan anggotanya. “Kami meyakini pasar modal bukan hanya alternatif pembiayaan, tetapi juga instrumen untuk meningkatkan kredibilitas, tata kelola, dan daya saing perusahaan properti,” kata Arvin.
Mitra Strategis Pertumbuhan
Sementara itu, Listyorini Dian Pratiwi, Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat PT Bursa Efek Indonesia menyoroti sektor properti yang memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Menurutnya sektor properti merupakan salah satu indikator kepercayaan ekonomi.
Ketika sektor ini tumbuh, pembiayaan bergerak, lapangan kerja tercipta, dan multiplier effect menyebar ke berbagai sektor seperti konstruksi, perbankan, hingga industri bahan bangunan. Dalam konteks tersebut, BEI berkomitmen menjadi mitra strategis bagi perusahaan properti untuk memperoleh pendanaan berkelanjutan.
Berdasarkan data BEI, saat ini terdapat 956 perusahaan tercatat saham dan 131 penerbit obligasi. Dari jumlah tersebut, 92 emiten berasal dari sektor properti dan realestat. “Potensinya masih sangat besar. Banyak pengembang memiliki kapasitas untuk scale up. Namun terkendala akses pembiayaan. Di sini pasar modal dapat berperan sebagai katalis,” ujar Listyorini.

Ketua DPD REI DKI Jakarta Arvin F. Iskandar bersama Listyorini Dian Pratiwi, Kepala Divisi Pengembangan Perusahaan Tercatat PT Bursa Efek Indonesia (Foto: REI DKI Jakarta)
Ia mencontohkan perjalanan pendanaan Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE), yang menunjukkan bahwa Penawaran Umum Perdana (Initial Public Offering/IPO) bukanlah tujuan akhir, melainkan awal dari strategi pendanaan jangka panjang. Sebelum IPO, perusahaan tersebut telah menerbitkan obligasi, dan setelahnya aktif melakukan berbagai aksi korporasi termasuk penerbitan obligasi lanjutan serta pemanfaatan instrumen seperti DIRE/REITs.
“Pasar modal menyediakan instrumen yang beragam—mulai dari saham, obligasi, sukuk, hingga DIRE/REITs—yang memungkinkan perusahaan memperoleh struktur cost of funding yang lebih optimal dan fleksibel sesuai kebutuhan bisnis,” tambahnya.
Komitmen Kolaboratif Pasar Modal
Melalui workshop ini, REI DKI Jakarta dan BEI sepakat untuk memperkuat kolaborasi dalam memberikan pendampingan, edukasi, dan fasilitasi bagi pengembang properti yang ingin mengakses pasar modal.
Kedua pihak menilai bahwa transformasi struktur pembiayaan sektor properti merupakan langkah strategis untuk membangun industri yang lebih sehat, transparan, dan berkelanjutan.
“Ini bukan hanya soal menghimpun dana. Ini tentang membangun fondasi industri properti yang lebih kuat dan siap menghadapi tantangan jangka panjang,” tutup Arvin. (BRN)
Penulis Oki Baren
Editor di industriproperti.com ini punya secuil pengalaman menulis di beberapa perusahaan media, baik cetak maupun online. Ayah dua anak yang hobi berburu kuliner lokal saat traveling ini sudah cukup lama bersentuhan dengan dunia properti. Bagi sahabat IP yang ingin kenal lebih jauh Sarjana Biologi Universitas Lampung bisa follow Instagram @oki_baren


