Investasi Properti Asia Pasifik Kembali Bergairah, Ini Pemicunya
- calendar_month Minggu, 24 Mei 2026
- print Cetak

Ilustrasi (Foto: Freepik)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Investasi properti di kawasan Asia Pasifik meningkat 15% secara tahunan menjadi USD204 miliar (periode 12 bulan hingga Maret 2026). Angka tersebut sejalan dengan pertumbuhan global dan menandakan kembali meningkatnya momentum investasi seiring kembalinya arus modal ke aset-aset properti utama.
“Kawasan Asia Pasifik kini dipandang semakin tangguh dan layak investasi, dengan arus modal yang mengarah ke pasar-pasar yang memiliki fundamental kuat dan potensi pertumbuhan jangka panjang,” ucap Managing Director Capital Markets & Investment Services Asia Pacific Colliers, Theo Novak dalam keterangannya, Jumat, 22 Mei 2026.
Menurutnya, Jepang menawarkan skala pasar yang besar, Singapura memiliki kekuatan makroekonomi, sedangkan Australia menawarkan peluang berbasis pendapatan yang menarik sehingga investor memiliki alasan kuat untuk kembali masuk ke pasar tersebut.
Sepanjang periode 12 bulan hingga Maret 2026, Jepang tetap menjadi pasar investasi terbesar di kawasan dengan nilai transaksi sekitar USD50,5 miliar, disusul Australia sebesar USD36,7 miliar, China USD36 miliar, Korea Selatan USD35 miliar, dan Singapura USD18,7 miliar.
Jepang dan Australia juga terus menarik porsi besar investasi asing, dengan investasi lintas negara menyumbang sekitar seperempat dari total volume transaksi di kedua pasar tersebut. Sementara itu, China tetap menjadi pasar investasi utama berdasarkan total volume transaksi, meski arus investasi asing masih terbatas sekitar 3,4% dari total aktivitas pasar.
Theo Novak menambahkan, kinerja sektor properti di Asia Pasifik juga berbeda dibanding tren global. Jika sektor hunian multifamily mendominasi di Amerika Utara, sektor perkantoran justru menjadi sektor unggulan di Asia Pasifik dalam dua tahun terakhir, khususnya di kota-kota gerbang utama.
Volume Investasi Properti Sektor Industri dan Ritel
Volume investasi sektor industri dan ritel di kawasan juga relatif seimbang, mencerminkan permintaan yang tetap tinggi terhadap aset logistik dan strategi investasi ritel yang kini lebih selektif. Perbedaan ini menunjukkan pentingnya strategi investasi yang lebih spesifik sesuai karakter masing-masing pasar di Asia Pasifik.
Berdasarkan riset Colliers, penggalangan dana investasi yang berfokus pada Asia Pasifik pada kuartal I-2026 kembali ke level tahun 2024 setelah mengalami peningkatan moderat sepanjang 2025. Secara global, aktivitas penggalangan dana memang melambat, namun waktu yang dibutuhkan untuk menghimpun modal menjadi lebih singkat, menandakan strategi investasi yang jelas semakin diminati investor.
Novak menilai arus modal kembali masuk ke Asia Pasifik dengan pendekatan yang lebih disiplin pada 2026. Investor kini lebih fokus pada pasar yang menawarkan skala besar, likuiditas, dan transparansi, sehingga Jepang, Australia, dan Singapura terus menjadi tujuan utama modal global.
Meski harga masih sensitif terhadap inflasi dan pergerakan suku bunga, kawasan Asia Pasifik dinilai berada dalam posisi yang lebih baik dibanding siklus sebelumnya. Pemulihan investasi diperkirakan terus berlanjut, didukung kedalaman pasar inti, membaiknya kondisi penyaluran modal, serta peluang investasi yang lebih selektif di berbagai sektor. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz

