Kawasan Industri Hijau Mulai Jadi Tren di Asia Pasifik
- calendar_month Sabtu, 28 Feb 2026
- print Cetak

Ilustrasi kawasan Industri (Foto: Freepik/wirestock)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Transformasi kawasan industri berbasis keberlanjutan alias industri hijau kian menjadi tren dalam lanskap properti Asia Pasifik. ESG Director Knight Frank APAC & Singapore, Jackie Cheung, menekankan bahwa evolusi eco dan smart industrial development kini bukan sekadar tren, melainkan fondasi baru daya saing kawasan industri global.
“Bagaimana kita dapat mempertahankan pertumbuhan industri ramah lingkungan, terutama ketika kita melihat banyak negara juga mengembangkan kawasan industri mereka? Saya pikir penting untuk mengenali kekuatan struktural bahwa tren ini akan semakin mendukung pertumbuhan industri ramah lingkungan di seluruh wilayah APEC,” urai Jackie.
Lebih jauh Jackie menuturkan, kombinasi teknologi keberlanjutan, potensi energi terbarukan, serta ketersediaan lahan industri yang kompetitif telah membentuk ulang keputusan investasi perusahaan. Kawasan industri tidak lagi dinilai hanya dari kapasitas produksi, tetapi juga dari kemampuan memenuhi standar rantai pasok rendah karbon dan tuntutan ESG yang semakin ketat.
Industrialisasi rendah karbon kini semakin terintegrasi dalam kebijakan nasional, strategi investasi, hingga persyaratan rantai pasok global. Di kawasan Asia Pasifik, konvergensi strategi industri, dekarbonisasi, serta inovasi digital menempatkan wilayah ini sebagai laboratorium utama pengembangan energi terbarukan dan infrastruktur pintar.
Kawasan Industri Indonesia dalam Peta Transformasi
Cheung menyoroti adanya sinyal kebijakan yang kuat untuk mendorong ekosistem kendaraan listrik domestik. Kebijakan seperti TKDN, insentif pajak kendaraan listrik, hingga relaksasi pembatasan lalu lintas di Jakarta menjadi faktor yang memperkuat permintaan industri baru.
Selain itu, pengembangan energi terbarukan—khususnya tenaga surya—juga mendorong pertumbuhan kawasan industri yang terintegrasi dengan kebutuhan energi bersih. Skema kerja sama lintas negara, termasuk ekspor energi bersih ke Singapura, disebut sebagai model yang membuka peluang proyek energi terbarukan berskala regional.
Beberapa kawasan industri di Indonesia bahkan mulai berkembang sebagai pusat manufaktur kendaraan listrik dan rantai pasoknya. Dalam perkembangan terbaru, Cheung mencontohkan kawasan seperti KIHI dan Delta Mas yang tidak hanya menghadirkan aktivitas industri, tetapi juga mengintegrasikan konsep ekonomi sirkular dengan area hunian serta komersial.
Sejumlah negara di kawasan Asia Pasifik tampak bergerak cepat dalam membangun eco-industrial park. Vietnam, misalnya, mengembangkan taman industri ramah lingkungan pertama di Ho Chi Minh City dengan fokus efisiensi energi, pengelolaan limbah, serta optimalisasi sumber daya.
Sementara Singapura menargetkan 80% wilayah kota memenuhi standar hijau pada 2030 dan mengembangkan Clean Tech Park sebagai klaster teknologi hijau berbasis sistem sirkular dan utilitas pintar. Bahkan, persyaratan net-zero mulai menjadi bagian dari tender kawasan industri baru.
China dan Thailand juga menunjukkan arah serupa melalui pengembangan eco-industrial park, infrastruktur energi terbarukan, serta kawasan industri pintar yang mendukung manufaktur berteknologi tinggi. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz


