Pasar Logistik Asia Pasifik Makin Selektif, Aset Berkualitas Jadi Incaran
- calendar_month Kamis, 20 Agt 2026
- print Cetak

Ilustrasi (Foto: Magnific)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Di sejumlah wilayah Asia Timur dan beberapa pasar yang telah maju, tingkat ketersediaan ruang logistik yang masih relatif tinggi memberikan fleksibilitas lebih besar bagi penyewa sekaligus menahan laju pertumbuhan harga sewa. Pemilik properti pun semakin dituntut bersaing melalui kualitas aset, aspek keberlanjutan, serta fungsi bangunan, bukan semata-mata mengandalkan kondisi pasar yang sedang menguntungkan.
“Pasar logistik Asia Pasifik telah memasuki fase siklus yang lebih matang, ketika pengguna ruang kini lebih berfokus pada jenis fasilitas yang mereka gunakan, bukan sekadar mengamankan kapasitas,” kata Global Head of Occupier Strategy and Solutions Knight Frank Tim Armstrong dalam keterangannya dikutip Kamis, 20 Agustus 2026.
Permintaan ruang logistik di kawasan Asia Pasifik tetap ditopang oleh aktivitas manufaktur, penyedia jasa logistik pihak ketiga (third-party logistics/3PL), serta perusahaan e-commerce. Pertumbuhan rantai pasok semikonduktor yang berkaitan dengan sektor berbasis kecerdasan buatan (AI), seperti manufaktur berteknologi tinggi dan industri elektronik, turut menjadi sumber tambahan aktivitas pengguna ruang di sejumlah pasar.
Aktivitas penyewaan terutama didorong oleh relokasi, konsolidasi, dan peningkatan kualitas ruang. Tren tersebut mencerminkan pendekatan pengguna ruang yang semakin disiplin dalam mengambil keputusan terkait properti.
Kebutuhan ekspansi juga masih selektif. Pengguna ruang kini lebih memprioritaskan efisiensi operasional, optimalisasi jaringan, serta kualitas gudang. Kondisi ini membuat tren flight to quality atau pergeseran permintaan menuju aset berkualitas menjadi salah satu karakter utama pasar logistik Asia Pasifik. Permintaan semakin terkonsentrasi pada fasilitas modern dengan spesifikasi yang lebih tinggi.
Harga Sewa Sektor Logistik
Secara keseluruhan, harga sewa di sebagian besar pasar Asia Pasifik masih mencatat pertumbuhan, meski tipis. Pada semester I 2026, rata-rata harga sewa meningkat 1,2% dibandingkan enam bulan sebelumnya. Pertumbuhan tersebut tetap tertahan oleh penurunan harga sewa di Hong Kong serta pasar China daratan, khususnya Beijing dan Shanghai, karena lonjakan pasokan masih memberikan posisi tawar lebih kuat kepada penyewa.
Brisbane mencatat pertumbuhan harga sewa paling tinggi sepanjang semester I 2026. Pasar ini mendapatkan dukungan dari permintaan pengguna ruang yang berkelanjutan, terutama dari sektor logistik, ritel, dan transportasi. Tingkat kekosongan pada aset prime juga terus menurun seiring berkurangnya kelebihan pasokan spekulatif. Bahkan, sekitar separuh pasokan baru yang masuk pada 2026 telah memperoleh komitmen penyewa sebelumnya.
Sementara itu, Greater Jakarta mencatatkan pertumbuhan harga sewa sebesar 1,3% pada semester I 2026. Sedangkan jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, pertumbuhan harga sewa logistik di Greater Jakarta lebih tinggi lagi, yakni sebesar 2,8%. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz
