Investasi Sektor Perkantoran Asia Pasifik Tembus USD58,6 Miliar
- calendar_month Sabtu, 7 Mar 2026
- print Cetak

Iustrasi (Foto: Freepik/diana.grytsku)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Laporan Asia Pacific Office Market Insights February 2026 yang dikeluarkan Lembaga Konsultan Properti Colliers menunjukkan tahap selanjutnya dalam siklus pasar perkantoran tidak lagi ditentukan oleh seberapa banyak ruang kantor yang disewa perusahaan, tetapi lebih pada di mana, mengapa, dan bagaimana ruang tersebut digunakan.
“Ini bukan lagi pasar yang digerakkan oleh volume. Pada 2026, keunggulan akan dimiliki oleh organisasi yang memahami dengan jelas kebutuhan kantor mereka, yakni performa, ketahanan, dan nilai jangka panjang serta mampu bergerak cepat ketika peluang yang tepat muncul,” jelas Managing Director of Occupier Services Asia Pacific Colliers, Mike Davis dalam keterangan tertulisnya pada Kamis, 5 Maret 2026.
Lebih jauh Davis menuturkan, momentum pasar perkantoran di Asia Pasifik pada tahun ini masih tetap kuat. Dengan meningkatnya persaingan pada aset premium serta menurunnya tingkat kekosongan di sejumlah pasar utama, organisasi kini menjadi lebih strategis dalam menentukan bagaimana, di mana, dan kapan mereka mengamankan ruang kantor.
Total aktivitas sewa di 11 pasar perkantoran utama kawasan mencapai 9,8 juta meter persegi pada 2025, meningkat 11% secara tahunan, didorong oleh meningkatnya kepercayaan dunia usaha serta ekspansi kembali di sejumlah ekonomi besar seperti India, China daratan, dan Jepang.
Di sisi lain, pasokan ruang kantor juga meningkat 19% secara tahunan, secara umum sejalan dengan pertumbuhan permintaan. Namun, seiring menurunnya tingkat kekosongan di lokasi-lokasi premium dan pasokan yang tidak merata, penyewa menjadi lebih berhati-hati, selektif, dan kompetitif dalam mengambil keputusan terkait properti mereka.
Performa Perkantoran di Negara Kawasan Asia Pasifik
Bagus Adikusumo, Head of Office Services Colliers Indonesia, menyatakan bahwa sektor teknologi dan energi menjadi kelompok paling aktif dalam mencari ruang kantor di Jakarta. Ia juga menambahkan bahwa perusahaan multinasional di Indonesia semakin memilih gedung yang memiliki sertifikasi hijau dan berlokasi dekat dengan stasiun transportasi massal sepanjang 2025.
Meski secara keseluruhan pasokan dan permintaan di Asia Pasifik relatif seimbang, kualitas bangunan kini menjadi faktor pembeda utama. India, China, dan Jepang masih menjadi penopang utama permintaan kawasan, dengan kontribusi sekitar 90% dari total aktivitas sewa pada 2025.
Sementara itu, pasar seperti Filipina, Selandia Baru, dan Hong Kong mencatat momentum pertumbuhan paling kuat, meskipun dari basis yang lebih kecil. Hal ini menandakan adanya keterlibatan kembali yang lebih luas di tingkat regional, bukan sekadar pemulihan yang seragam.
Aktivitas investasi di kawasan ini juga memperkuat perubahan sentimen tersebut. Investasi institusional di pasar perkantoran Asia Pasifik meningkat 21% secara tahunan menjadi US$58,6 miliar pada 2025, mencerminkan kembali meningkatnya kepercayaan terhadap sektor ini.
Korea Selatan dan Jepang bersama-sama menyumbang lebih dari setengah total volume investasi perkantoran regional, sementara India mencatat pertumbuhan tahunan investasi paling kuat.
“Investor institusional mulai melihat melampaui pemulihan siklus jangka pendek dan semakin selaras dengan permintaan penyewa terhadap gedung berkualitas tinggi, berlokasi strategis, dan siap menghadapi masa depan. Hal ini menegaskan semakin kuatnya konvergensi antara strategi penyewa dan penempatan modal,” ujar Managing Director Capital Markets & Investment Services Asia Pacific Colliers, Theo Novak.
Ia menambahkan bahwa fase berikutnya dalam siklus pasar perkantoran akan dipimpin oleh organisasi dan investor yang memahami bahwa real estat kini merupakan keunggulan kompetitif, bukan sekadar komponen biaya. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz
