Sewa Kantor Asia Pasifik Tetap Naik di Tengah Tekanan Global
- calendar_month Minggu, 19 Apr 2026
- print Cetak

Ilustrasi Properti Asia Pasifik (Foto: wrestock)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Hasil riset Lembaga Konsultan Properti Knight Frank memaparkan kenaikan harga sewa kantor premium sebesar 0,8% secara kuartalan pada Kuartal I 2026 di kawasan Asia Pasifik. Kenaikan tipis harga sewa disokong oleh momentum yang berkelanjutan di pasar India dan Australia.
“Meningkatnya konflik di Timur Tengah kembali menghadirkan ketidakpastian geopolitik. Namun demikian, sentimen penyewa di kawasan Asia Pasifik secara umum tetap cukup tangguh,” jelas Global Head of Occupier Strategy and Solutions Knight Frank Tim Armstrong dalam laporannya dikutip Minggu, 19 April 2026.
Lebih jauh Armstrong mengatakan, beberapa penyewa mungkin akan bersikap hati-hati dalam jangka pendek dengan menunda keputusan terkait properti. Pendekatan ini kemungkinan tidak dapat dilakukan secara luas karena pipeline pembangunan akan semakin terbatas di sebagian besar pasar. Para penyewa kini memprioritaskan kantor berkualitas tinggi yang siap menghadapi masa depan, yang mampu mendukung daya tarik talenta, ketahanan, serta fleksibilitas operasional jangka panjang.
Hal ini memperkuat tren peralihan ke aset berkualitas (flight-to-quality), di mana penyewa bertindak lebih cepat untuk mengamankan ruang premium di lokasi inti. Dampak berkelanjutan terhadap biaya energi akibat konflik juga semakin memperkuat kebutuhan akan kantor yang berlokasi strategis, hemat energi, dan memiliki akses yang baik ke jaringan transportasi.
“Dalam kondisi yang tidak pasti, properti semakin dipandang sebagai faktor strategis yang mendukung stabilitas bisnis dan pertumbuhan jangka panjang, bukan sekadar biaya opsional,” imbuhnya.
Pertumbuhan Sewa Kantor Mumbai Paling Tinggi
Pertumbuhan sewa perkantoran di Australia terus didorong oleh tren peralihan ke gedung berkualitas tinggi (flight-to-quality) yang memperlebar kesenjangan harga antara aset premium dan sekunder, serta meningkatnya tingkat kehadiran di kantor.
Di sisi lain, harga sewa di pasar kantor utama seperti Bengaluru, Mumbai, dan Delhi-NCR melonjak rata-rata 5,8%. Kenaikan didorong oleh permintaan yang kuat dari Global Capability Centres (GCC). Di Bengaluru, harga sewa naik signifikan sebesar 14% secara tahunan, mencatat pertumbuhan dua digit selama dua kuartal berturut-turut.
Kota ini tetap menjadi destinasi utama dengan menyumbang 41% dari transaksi sewa GCC pada Kuartal I 2026. Total luas sewa sebesar 18,8 juta kaki persegi juga tergolong signifikan untuk kuartal pertama.
Sementara di Hong Kong, permintaan dari institusi keuangan juga tetap terjaga. Pada kuartal I 2026, JPMorgan menandatangani kontrak sewa selama 10 tahun di gedung perkantoran baru di submarket Kowloon West. Namun, otoritas China saat ini tengah mempertimbangkan pengetatan aturan bagi perusahaan yang ingin mencatatkan saham di Hong Kong.
Meskipun pengawasan yang lebih ketat terhadap perusahaan red-chip dapat mengurangi masuknya penyewa baru dari sektor keuangan, dampaknya diperkirakan tetap terkendali, mengingat terdapat sekitar 530 perusahaan dari Tiongkok daratan yang berada dalam pipeline untuk melakukan pencatatan di Hong Kong. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz

