Pasar Melemah, Hotel di Bali dan Jakarta Lakukan Hal Ini
- calendar_month Sabtu, 27 Jun 2026
- print Cetak

ilustrasi (Foto: Pexels/Tom Fis)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Setidaknya lima hotel di Jakarta telah menjalani proses rebranding atau perubahan merek selama lima tahun terakhir. Langkah ini mencerminkan pergeseran yang lebih luas dalam industri menuju reposisi aset.
“Beberapa temuan utama dari fenomena rebranding hotel ini mencakup pergeseran dari volume ke profitabilitas, peningkatan nilai aset, reposisi melalui konsep yang diperbarui, serta adaptasi terhadap pola permintaan yang terus berubah,” ucap Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto dalam keterangannya dikutip Sabtu, 27 Juni 2026.
Ferry menjelaskan, meskipun terjadi penurunan aktivitas Meeting, Incentive, Convention, Exhibition (MICE), Jakarta tetap menunjukkan potensi yang kuat pada segmen pemerintah dan korporasi, yang menjelaskan masih dominannya pasokan kelas atas. Inisiatif rebranding dan peningkatan kualitas telah mendorong peningkatan proporsi hotel bintang 4 dan 5 dalam total pasokan di Jakarta.
Hingga kuartal pertama tahun 2026, total inventarisnya mencapai sekitar 49.106 kamar, dengan yang bintang 4 menyumbang sekitar 40% dari total pasokan. Ke depan, tambahan yang kelas atas diperkirakan akan memasuki pasar, sehingga semakin memperketat persaingan di segmen ini.
Sementara itu di Bali, pada kuartal pertama tahun 2026, pembukaan hotel baru hasil rebranding menegaskan kepercayaan investor terhadap fundamental pariwisata jangka panjang di Bali.
Di tengah tantangan jangka pendek, Bali tetap menarik investasi pada aset perhotelan kelas atas. Pulau ini tetap menjadi destinasi utama untuk pengembangan hotel mewah, dengan tambahan sekitar 1.623 kamar hotel bintang 5 yang diperkirakan akan selesai antara tahun 2026 hingga tahun 2029.
Perubahan Konsep Kemewahan Hotel
Konsep kemewahan juga terus mengalami perubahan. Kemewahan kini tidak lagi hanya ditentukan oleh skala proyek atau klasifikasi bintang, tetapi semakin dipengaruhi oleh unsur eksklusivitas, personalisasi, dan pengalaman yang ditawarkan.
Pengembangan proyek baru mulai menekankan aspek wellness, suasana layaknya tempat peristirahtan (retreat), serta pengalaman yang dirancang secara khusus bagi tamu. Konsep ini terutama menarik bagi wisatawan generasi milenial dan Gen Z yang lebih mengutamakan pengalaman perjalanan yang bermakna, autentik, dan mendalam.
Dalam lingkungan yang semakin dinamis, yang mampu menunjukkan kelincahan operasional, posisi pasar yang kuat, serta penawaran berbasis pengalaman akan berada pada posisi terbaik untuk mempertahankan kinerja dan menangkap peluang baru.
Kemampuan memanfaatkan rebranding secara efektif, mengoptimalkan operasional, dan mengidentifikasi segmen permintaan baru akan lebih mampu menjaga kinerja serta menghadapi tantangan pasar yang terus berkembang. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz
