Pasokan Tetap, Pasar Kawasan Industri Masuki Fase Investasi Baru
- calendar_month Kamis, 6 Agt 2026
- print Cetak

Ilustrasi (Foto: standret)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Aktivitas transaksi di sektor kawasan industri mengalami perlambatan dan iklim investasi menjadi lebih selektif pada kuartal II tahun 2026. Berdasarkan laporan pasar industri terbaru Colliers, serapan lahan industri mencapai 36,74 hektar pada kuartal tersebut. Hal ini mencerminkan mencerminkan kondisi pasar di mana investor masih aktif menjajaki peluang investasi, namun semakin selektif dan membutuhkan waktu lebih panjang sebelum mengambil keputusan ekspansi.
“Pasar industri Greater Jakarta bukan sedang mengalami perlambatan secara menyeluruh. Sebaliknya, pasar memasuki fase investasi baru, di mana perusahaan semakin mengutamakan kepastian operasional, kesiapan infrastruktur, dan keberlanjutan bisnis jangka panjang sebelum memutuskan untuk berekspansi,” jelas Head of Research Colliers Indonesia Ferry Salanto dalam keterangan tertulis, Rabu, 5 Agustus 2026.
Saat ini, imbuh Ferry, fokus pasar bukan lagi pada besarnya volume transaksi, melainkan pada kualitas keputusan investasinya. Menurut Colliers, pasar industri saat ini sedang memasuki fase transisi, di mana kualitas investasi menjadi lebih penting dibanding sekadar besarnya volume transaksi. Investor masih melihat Indonesia sebagai tujuan investasi yang menarik, namun kini semakin selektif dengan lebih mengutamakan kepastian regulasi, kesiapan infrastruktur, dan efisiensi operasional jangka panjang.
Permintaan masih didukung oleh sektor-sektor dengan prospek pertumbuhan jangka panjang, terutama pusat data, logistik, industri kendaraan listrik beserta rantai pasok pendukungnya, elektronik, FMCG, kesehatan, serta ekspansi dari okupier yang sudah beroperasi. Sektor-sektor ini tetap berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi struktural Indonesia, digitalisasi, konsumsi domestik, dan penguatan rantai pasok.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut peningkatan kebutuhan data center membuka peluang investasi baru bagi Indonesia, khususnya dengan dukungan ketersediaan lahan, energi, dan potensi pengembangan energi terbarukan. Pengembangan data center membutuhkan dukungan listrik, energi terbarukan, air, lahan, serta konektivitas yang memadai.
Menurut Menko Airlangga, peluang Indonesia pada sektor tersebut ke depan sangat besar sehingga perlu dimanfaatkan secara optimal, termasuk melalui percepatan penguatan konektivitas kelistrikan dan penyediaan energi hijau.
Pasok Lahan Kawasan Industri
Total pasokan lahan industri di Jakarta dan sekitarnya tidak mengalami perubahan dan tetap berada di kisaran 18.500 hektare pada kuartal II tahun 2026, karena tidak ada kawasan industri baru yang selesai dibangun selama periode tersebut. Alih-alih mempercepat peluncuran kawasan baru, para pengembang semakin berfokus pada optimalisasi bank lahan yang sudah dimiliki melalui pengembangan bertahap, penyesuaian masterplan, serta alih fungsi lahan secara selektif untuk merespons kebutuhan okupier yang terus berkembang.
Seiring bergesernya permintaan industri menuju sektor bernilai lebih tinggi dan berbasis teknologi, kesiapan infrastruktur menjadi faktor pembeda yang semakin penting. Kawasan industri yang menawarkan utilitas yang andal, kapasitas listrik yang memadai, konektivitas yang kuat, serta kepastian operasional semakin mampu mempertahankan daya tawar harga dan menarik minat investor, khususnya dari sektor pusat data dan manufaktur berteknologi maju.
Ke depan, Colliers memperkirakan pasar industri di Greater Jakarta akan tetap didukung oleh besarnya perekonomian domestik Indonesia, perluasan infrastruktur digital, serta keberlanjutan pengembangan hilirisasi industri. Namun, aktivitas investasi ke depan realisasi investasi akan semakin ditentukan oleh kepastian regulasi, efisiensi proses perizinan, percepatan pembangunan infrastruktur, serta kesiapan utilitas.
Di Indonesia, ada 129 kawasan industri yang tersebar di 24 provinsi dengan total luas lahan sekitar 170 ribu hektare. Berbagai kawasan industri telah menjadi lokasi bagi sekitar 10.400 perusahaan manufaktur dan menyerap sekitar 4,5 juta tenaga kerja. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz
