Breaking News
light_mode
Beranda » Nasional » Pembentukan BPRA Percepat Distribusi Tanah Rakyat

Pembentukan BPRA Percepat Distribusi Tanah Rakyat

  • calendar_month Kamis, 2 Okt 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta – Ironi yang terjadi saat ini adalah sulitnya rakyat memiliki tanah. Sebaliknya, pemerintah dan korporasi justru lebih mudah mendapatkannya. Ketua Dewan Penasihat Great Institute, Moh Jumhur Hidayat menyebut, ketimpangan kepemilikan tanah saat ini sangat besar.

“Indeks Gini penguasaan tanah mencapai 0,78. Ada satu orang menguasai jutaan hektare, sementara mayoritas petani justru tak punya lahan dan bekerja sebagai buruh tani. Di sisi lain, penggusuran terhadap tanah rakyat masih terus berlangsung,” ucap Jumhur saat membuka FGD Reforma Agraria di Jakarta, Rabu, 1 Oktober 2025.

Pada kesempatan yang sama, Anggota DPR RI Ahmad Irawan mengungkapkan rasio Gini pertanahan Indonesia termasuk yang terburuk di kawasan ASEAN, yakni berkisar antara 0,6–0,7. Selain itu, regulasi pertanahan masih dibuat sepihak dengan minimnya otoritas kementerian terkait.

“Peraturan dibuat sepihak, ATR/BPN tidak punya otoritas penuh. Ada 2.350 desa yang secara hukum masih dianggap kawasan hutan, padahal masyarakat sudah tinggal di sana jauh sebelum republik ini berdiri,” katanya.

Untuk itu, keberadaan Badan Pelaksana Reforma Agraria (BPRA) diharapkan dapat menjadi salah satu solusi mengatasi persoalan akses terhadap lahan ditengah maraknya konflik dan ketimpangan penguasaan. “Badan Pelaksana Reforma Agraria ini satu pendekatan instrumental kelembagaan yang menurut saya relevan dan sangat dibutuhkan. Kenapa? Karena kita tidak punya satu single authority yang bisa mengeksekusi ini secara cepat dan efektif,” imbuhnya.

Pembahasan juga menyasar mengenai Bank Tanah yang kemukakan oleh Kepala Divisi Perolehan Tanah, Yagus Suyadi. Ia mengatakan pembentukan badan bank tanah pada prinsipnya adalah melengkapi tugas dan fungsi dari Kementerian ATR/BPN.

“Perlu kami tegaskan di sini yang diatur itu bukan tanah hak, tetapi tanah negara. Yang dikelola oleh badan bank tanah itu bukan untuknya. Yang dikelola oleh badan bank tanah itu bukan untuk profit tetapi dalam rangka untuk mewujudkan ekonomi berkeadilan,” ucap Yagus.

Namun, keberadaan Bank Tanah dikritik oleh Sekretaris Jenderal (Sekjen) Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA) Dewi Kartika. Menurutnya, kehadiran bank tanah bukan merupakan sebuah solusi. “Bank Tanah ini bagian dari masalah, bukan solusi. Ia lahir dari Ciptaker, dan mencampuradukkan Reforma Agraria dengan pengadaan tanah untuk korporasi besar,” kata Dewi.

Sementara Researcher Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Lilis Mulyani menyampaikan, BPRA dalam konsepnya masih berkutat pada pengadaan lahannya, belum ke tata perubahan tata niaganya, tata kelolanya dan tata produksinya.

BPRA di Bawah Presiden

Sekjen KPA Dewi Kartika menambahkan, BPRA yang sudah diusulkan sejak masa awal reformasi sampai dengan saat ini langsung dibawah Presiden. “Gerakan reforma agraria untuk mendorong badan otorita reforma agraria atau badan pelaksana reforma agraria yang langsung dipimpin presiden itu selalu ditolak, selalu mentok, dan kembali lagi dikembalikan ke kementerian-kementerian lembaga terkait” katanya.

Dalam kesempatan yang sama Deputi Bidang Transformasi Hijau dan Digital Otorita IKN Agung Indrajit menekankan pentingnya Land Administration Domain Model (LADM) untuk mengurangi asimetri informasi dalam pertanahan. “Tanah tidak sekadar soal regulasi, tapi juga data. Data harus transparan, interoperable, agar tidak ada lagi permainan informasi,” ujar Agung.

Arwin Lubis alias Ucok, aktivis pertanahan sejak 1980-an, mengingatkan kembali prinsip UUPA 1960: tanah bukan milik raja, bukan pula milik negara, melainkan hak rakyat. “Negara tidak bisa menjual tanah. Negara hanya boleh mengambil bea atas layanan keagrariaan,” kata Arwin.

Adapun Diskusi bertema “Reforma Agraria dalam Konteks Perkotaan dan Pedesaan: Ketimpangan, Hak Ulayat, Tata Ruang, dan Badan Pelaksana Reforma Agraria” itu menghadirkan sejumlah nama penting, seperti Moh Jumhur Hidayat, Dr Yagus Suyadi dari Bank Tanah, Ahmad Irawan SH, MH dari Komisi II DPR RI, Dr Agung Indrajit dari Otorita IKN, Dr Bayu Eka Yulian dari IPB, Dr Lilis Mulyani dari BRIN, Sekjen Konsorsium Pembaruan Agraria (KPA), Dewi Kartika; Agustiana dari Serikat Petani Jawa Barat, aktivis “bangkotan” untuk urusan agrarian dan konfliknya, Arwin Lubis, serta peneliti Great Institute, Ir Hendry Harmen, MT. (SAN)

Penulis

Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menetapkan 36 bandar udara (bandara) umum menjadi Bandara Internasional

    36 Bandara Internasional Resmi Ditetapkan, Tunjang Sektor Pariwisata

    • calendar_month Kamis, 14 Agt 2025
    • 0Komentar

    Jakarta – Kementerian Perhubungan (Kemenhub) menetapkan 36 bandar udara (bandara) umum sebagai Bandara Internasional. Penetapan tersebut tertuang dalam Keputusan Menteri Perhubungan Nomor KM 37 Tahun 2025. “Presiden Prabowo menginstruksikan pembukaan bandara internasional sebanyak-banyaknya di berbagai daerah guna mendorong percepatan perputaran ekonomi dan pariwisata daerah. Sehingga penetapan bandara internasional ini menjadi langkah strategis untuk mendorong hal […]

  • BP Tapera

    Skema Baru Belum Terbit, BP Tapera Tetap Salurkan KPR FLPP

    • calendar_month Kamis, 6 Feb 2025
    • 0Komentar

    Jakarta – Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) dipastikan masih akan menyalurkan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP) dengan skema lama, yakni 75% bersumber dari APBN dan sisanya 25% dari bank pelaksana. Komitmen tersebut disuarakan seiring belum terbitnya skema proporsi KPR FLPP yang baru. “Pemerintah memang ingin melakukan redesain terhadap […]

  • Fit-out Kantor

    Wow! Biaya Fit Out Kantor di Tokyo Termahal se-Asia Pasifik

    • calendar_month Minggu, 8 Mei 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Kota Tokyo, Jepang, memuncaki biaya fit-out kantor termahal di kawasan Asia Pasifik berdasarkan laporan Cushman & Wakefield. Laporan tersebut juga mengungkapkan biaya fit-out kantor rata-rata untuk 31 kota di Asia Pasifik. “Jepang tetap menjadi pasar fit-out kantor termahal di kawasan ini selama tiga tahun berturut-turut, dengan Tokyo, Osaka, dan Nagoya menempati tiga posisi […]

  • dpd rei riau

    Mantap! Bank BTN dan BTN Syariah Bersama REI Riau Gelar Akad Massal KPR

    • calendar_month Jumat, 25 Nov 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) dan BTN Syariah bersama Dewan Pengurus Daerah Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPD REI) Riau menggelar akad KPR massal di Pekanbaru, Riau pada Kamis, 24 November 2022. “Harapan kita sebagai asosiasi yang pertama secara internal teman-teman lebih terpacu lagi bahwasanya kuota itu selalu tersedia untuk REI supaya […]

  • perekonomian indonesia

    3 Sektor Ini Penopang Perekonomian Indonesia Q2/2022

    • calendar_month Minggu, 14 Agt 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan bahwa perekonomian Indonesia kuartal II-2022 menunjukkan kinerja yang sangat impresif di tengah krisis dan ketidakpastian global. Penopang perekonomian Indonesia adalah konsumsi, investasi, dan ekspor. Jika dibandingkan dengan negara lain, Indonesia mengalami tren pertumbuhan di kuartal II-2022 sebesar 5,4 persen, naik dari kuartal I-2022 yang sebesar 5 […]

  • Februari 2022, Penyaluran BNI Griya Tumbuh 8%

    Februari 2022, Penyaluran BNI Griya Tumbuh 8%

    • calendar_month Senin, 18 Apr 2022
    • 0Komentar

    JAKARTA – PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BNI) berkomitmen untuk terus menggenjot kredit sektor properti di tahun ketiga pandemi Covid-19 sebagai salah satu bentuk upaya pemulihan ekonomi nasional. Hal tersebut mengingat sektor properti memiliki multiplier effect lebih dari 170 subsektor industri yang dapat menjadi salah satu penggerak perekonomian nasional. Dengan segala tantangan tersebut, BNI […]

Translate »
expand_less