Performa Ritel Mulai Menggeliat, Kawasan Industri Diserbu Investor
- calendar_month Kamis, 26 Feb 2026
- print Cetak

Ilustrasi (Foto: Freepik)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Kinerja sektor ritel dan kawasan industri di Jakarta memperlihatkan tren yang relatif stabil sepanjang Semester II 2025 dengan sejumlah sinyal pertumbuhan, baik dari sisi okupansi, ekspansi tenant, maupun penyerapan lahan industri. Pada sektor ritel, pasar Jakarta dinilai memasuki periode pemulihan yang lebih solid pascapandemi.
“Kami melihat bahwa ini adalah bukti dari resiliensi untuk retail yang bangkit cukup cepat dibandingkan dengan sektor-sektor lainnya setelah pandemi,” ucap Senior Research Advisor Knight Frank Indonesia Syarifah Syaukat dalam Online Press Conference – Jakarta Property Highlights H2 2025 (Retail & Industrial Sectors), Kamis, 26 Februari 2026.
Syarifah menjelaskan, periode pemulihan sektor ritel tercermin dari peningkatan tingkat hunian meskipun pasokan ruang ritel terus bertambah. Sepanjang Semester II 2025, total pasokan ritel mencapai naik 1% secara tahunan di angka 4.377.690 m2, dengan tambahan dua pusat perbelanjaan baru yang masuk ke pasar. Di tengah peningkatan pasokan tersebut, tingkat okupansi tetap berada di kisaran 77,9%.
Sekitar 50% tenant baru pada periode tengah tahun kedua 2025 berasal dari sektor F&B, disusul oleh kategori fashion, kecantikan, gaya hidup, dan olahraga. Tren ini menunjukkan pergeseran fungsi pusat perbelanjaan sebagai ruang pengalaman dan interaksi sosial, bukan sekadar tempat berbelanja.
Selain komposisi tenant, stabilitas harga sewa juga menjadi indikator kinerja pasar ritel. Tarif sewa dan service charge dilaporkan relatif stabil dengan kecenderungan meningkat secara tipis, terutama pada mal premium dan Grade A. Ini menandakan tingkat kepercayaan pengelola terhadap prospek pasar, sekaligus mencerminkan kembalinya trafik pengunjung ke pusat perbelanjaan.
Adapun secara geografis, Jakarta Selatan masih mendominasi stok ritel sekaligus menjadi lokasi utama pengembangan proyek baru. Namun, wilayah Jakarta Barat dan Utara tetap mempertahankan peran penting sebagai kantong aktivitas ritel. Ke depan, pasokan tetap tumbuh dengan rencana masuknya tiga proyek baru pada 2026.
Transformasi Ritel dan Kawasan Industri Panen Permintaan
Transformasi konsep pusat perbelanjaan juga menjadi sorotan dalam periode ini. Tren ruang terbuka dan konsep biophilic semakin menonjol, dengan pengelola melakukan renovasi dan penyesuaian desain untuk menghadirkan pengalaman pengunjung yang lebih fleksibel dan rekreatif. Pergeseran ini memperkuat strategi repositioning aset ritel agar tetap relevan di tengah perubahan perilaku konsumen.
Sektor kawasan industri dan pergudangan di Greater Jakarta menunjukkan kinerja positif yang didorong peningkatan permintaan lahan serta pertumbuhan sewa gudang modern. Sepanjang Semester II 2025, harga sewa gudang modern tercatat tumbuh sekitar 2,7%, mencerminkan permintaan yang tetap kuat terhadap fasilitas logistik berkualitas.
Total stok kawasan industri di Greater Jakarta bertambah di koridor TImur, sehingga saat ini tercatat berkisar 15.920 hektar. Rerata harga lahan mengalami kenaikan di beberapa submarket, hal ini terjadi karena tingginya permintaan lahan, terutama di Bekasi, Karawang dan Subang. Total serapan lahan di sepanjang tahun 2025 berkisar 318,3 hektar. Cilegon-Serang dan Bekasi menjadi submarket yang potensial di akhir tahun 2025.
Permintaan lahan industri sepanjang 2025 tercatat meningkat sekitar 2,3% secara tahunan. Cilegon dan Serang muncul sebagai submarket dengan tingkat penyerapan tertinggi, diikuti Karawang dan Bekasi yang telah lebih dahulu berkembang sebagai pusat industri mapan. Munculnya wilayah barat sebagai destinasi investasi baru menandakan diversifikasi lokasi industri di luar koridor timur yang selama ini dominan.
Dari sisi harga, lahan industri dilaporkan relatif stabil dengan kisaran Rp2–3 juta per meter persegi di sebagian besar submarket. Stabilitas harga ini menunjukkan keseimbangan antara pasokan dan permintaan, sekaligus memberikan ruang bagi investor untuk melakukan ekspansi jangka menengah. Di sisi lain, kawasan Bogor menghadapi keterbatasan pasokan akibat minimnya pengembangan baru.
Sektor otomotif dan manufaktur menjadi penyerap lahan terbesar sepanjang 2025, sementara industri kendaraan listrik mulai muncul sebagai sumber permintaan baru. Selain itu, aktivitas data center tetap berkontribusi terhadap serapan lahan meskipun mengalami koreksi dibanding periode sebelumnya. Sektor konstruksi juga terlihat agresif melakukan ekspansi, terutama di kawasan Cilegon dan Serang.
Pengembangan kawasan industri baru turut menjadi perhatian, dengan Subang dan Purwakarta diidentifikasi sebagai wilayah yang berpotensi menambah pasokan lahan dalam jangka menengah. Kehadiran land bank baru ini diperkirakan akan mendukung keberlanjutan pertumbuhan sektor industri di wilayah Greater Jakarta. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz


