Diminati Investor Tiongkok, Prospek Kawasan Industri Terkendala Isu Global
- calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
- print Cetak

Ilustrasi kawasan industri. (Foto: Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Performa kawasan industri di awal tahun ini dibayang-bayangi dinamika geopolitik global yang akan mempengaruhi perilaku para investor. Menurut tim Industrial and Logistics Services Colliers Indonesia, meskipun Indonesia tidak berada di wilayah konflik, termasuk konflik antara Iran dan AS‑Israel, situasi tersebut tetap dapat memengaruhi sentimen investasi.
“Operasional perusahaan Tiongkok di Indonesia masih berjalan stabil, tetapi investor baru cenderung mengambil langkah yang lebih hati-hati. Potensi implikasi terhadap rantai pasok dapat bervariasi dalam bentuk maupun hasil,” jelas Head of Industrial and Logistics Services Rivan Munansa Colliers Indonesia dalam keterangannya dikutip Kamis, 12 Maret 2026.
Lebih jauh Rivan menjelaskan, dengan semakin matangnya kawasan industri Bekasi serta terbatasnya lahan baru, ekspansi industri kini bergerak menuju koridor timur: Karawang, Purwakarta, dan Subang, yang menawarkan keunggulan dari sisi ketersediaan lahan, konektivitas logistik, dan kesiapan untuk manufaktur skala besar. KEK Batang dan Subang pun berkembang menjadi pusat distribusi regional berkat infrastruktur terintegrasi dan dukungan insentif pemerintah.
Pada saat bersamaan, Indonesia kian dipandang sebagai lokasi strategis bagi produsen asal Tiongkok. Didukung oleh kondisi geopolitik yang tidak stabil dan kebutuhan diversifikasi manufaktur, investor Tiongkok memperluas portofolio mereka di Indonesia. Namun, dinamika geopolitik global dapat berdampak pada perilaku investor.
Dampak Ketegangan Global Terhadap Kawasan Industri
Ada beberapa potensi dampak yang dapat timbul di tengah kondisi ketegangan global yang tengah berlangsung, baik jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk jangka pendek, Ketegangan global dapat menyebabkan penundaan ekspansi karena investor cenderung bersikap lebih berhati‑hati. Kemudian, potensi perubahan dalam jangka menengah adalah permintaan lahan industri berpeluang meningkat apabila Indonesia dinilai memiliki stabilitas dan daya saing yang memadai.
Berikutnya, potensi penyesuaian dalam jangka panjang adalah perubahan dalam rantai pasok dari wilayah yang terdampak dapat mendorong perusahaan untuk mempertimbangkan berbagai lokasi produksi alternatif, dengan Indonesia sebagai salah satu kemungkinan yang dievaluasi.
Adapun dengan meningkatnya momentum di koridor timur Greater Jakarta, investor dan pengembang kini menyesuaikan strategi mereka. Bekasi dan Karawang lebih banyak menyerap Standard Factory Buildings (SFB) plug‑and‑play, sementara Purwakarta dan Subang diminati pembeli lahan besar. Peningkatan konektivitas, terutama melalui Pelabuhan Patimban dan jaringan jalan tol baru, telah memposisikan kembali kawasan industri di koridor timur sebagai anchor utama, bukan lagi sebagai hub satelit sekunder.
Dalam proses memperkuat struktur industrinya, Indonesia dapat menempatkan KEK sebagai komponen strategis bagi pertumbuhan ekonomi masa depan, mencakup fungsi manufaktur ekspor serta peran sebagai hub distribusi regional dan simpul rantai pasok terintegrasi. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz
