Tantangan Pengembang Masa Kini Tak Hanya Soal Desain dan Lokasi
- calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
- print Cetak

Ilustrasi (Foto: Freepik/ijeab)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Tak lagi semata soal desain dan lokasi, tantangan yang dihadapi para pengembang di sektor properti komersial dihadapkan pula pada bagaimana proyek dikelola di lapangan. Hal ini bisa terjadi karena seiring dengan berkembangnya sektor properti komersial di Indonesia.
“Saat ini, proyek tidak lagi dinilai hanya dari segi kualitas desain atau lokasi. Proyek semakin dinilai dari seberapa baik pelaksanaannya, tepat waktu, sesuai anggaran, dan dengan akuntabilitas yang jelas,” urai Head of Project Management Colliers Indonesia Rahmat Daresa Alam dalam keterangannya dikutip, Minggu, 17 Mei 2026.
Lebih jauh Rahmat menuturkan, pengembang dan pemilik aset kini didorong untuk mengadopsi sistem manajemen konstruksi dan manajemen proyek digital guna meningkatkan efektivitas pelaksanaan dan pengawasan proyek.
Di tengah meningkatnya ekspektasi investor dan tuntutan tata kelola, banyak proyek konstruksi masih bergantung pada alur kerja yang terpecah, proses persetujuan berbasis dokumen fisik, serta pelaporan yang terlambat, hal ini secara konsisten mencerminkan adanya hambatan dalam pelaksanaan proyek.
Dalam laporan yang diterbitkan Colliers Indonesia bertajuk “Traditional to Digital Project Management: Streamlined Workflows, Real-time Monitoring, Better Outcomes” terlihat semakin lebarnya kesenjangan antara kompleksitas pengembangan properti modern dan sistem manajemen proyek yang masih didominasi oleh proses secara manual.
Permasalahan Utama Pengembang
Keterlambatan dalam mendeteksi pembengkakan biaya, siklus persetujuan yang lambat, serta terbatasnya visibilitas terhadap progres di lapangan menjadi sejumlah permasalahan utama yang memengaruhi hasil proyek.
Perangkat lunak proyek manajemen memusatkan dokumentasi, proses persetujuan, dan pelaporan dalam satu sistem terpadu, sehingga memberikan visibilitas langsung terhadap anggaran, jadwal, dan proses pengambilan keputusan. Namun, teknologi hanya merupakan bagian dari keseluruhan proses.
Keberhasilan implementasi bergantung pada kepemimpinan yang kuat, tata kelola yang jelas, serta dukungan manajemen proyek yang berpengalaman untuk memastikan bahwa solusi digital diadopsi secara tepat dan selaras dengan tujuan proyek.
Bagi pengembang dan pemilik aset, dampaknya melampaui sekadar efisiensi konstruksi. Proyek yang terlambat atau melampaui anggaran dapat secara langsung memengaruhi nilai aset jangka panjang, strategi penyewaan, serta tingkat kepercayaan investor. Seiring dengan semakin kompetitif dan teregulasinya sektor properti komersial, peralihan dari manajemen proyek tradisional ke digital tidak lagi dipandang sebagai tren, melainkan sebagai kebutuhan strategis. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz

