Workplace Strategy Jawaban Tantangan Ruang Perkantoran
- calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
- print Cetak

Ilustrasi (Foto: Magnific/Dit26978)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Studi Workplace Strategy mengevaluasi tujuan bisnis, karakteristik tenaga kerja, pola kerja, dan tingkat pemanfaatan ruang yang sebenarnya. Hasil evaluasi tersebut kemudian diterjemahkan menjadi rekomendasi strategis, panduan desain, kebutuhan perencanaan ruang, serta kerangka pelaksanaan.
“Workplace Strategy berbasis data dapat membantu organisasi menjawab berbagai prioritas tersebut dengan menggabungkan wawasan mengenai kebutuhan karyawan, data okupansi, dan kebutuhan bisnis,” ucap Head of Project Management Colliers Indonesia Rahmat Daresa Alam dalam keterangannya Rabu, 24 September 2026
Lebih jauh Rahmat menjeleaskan, pendekatan tersebut terutama relevan bagi perusahaan yang sedang mempertimbangkan relokasi, perpanjangan sewa, konsolidasi, renovasi, maupun pertumbuhan tenaga kerja pada masa mendatang.
Data operasional juga dapat menjadi dasar untuk merancang solusi tempat kerja yang tepat. Pola okupansi, misalnya, dapat membantu menentukan alokasi ruang. Sementara itu, program karyawan dapat menjadi pertimbangan dalam menyediakan area kolaborasi, ruang tenang, dan ruang acara yang fleksibel.
Alih-alih menyediakan ruang khusus untuk setiap aktivitas, perusahaan dapat menghadirkan area multifungsi yang mampu mengakomodasi berbagai kebutuhan sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan ruang kerja untuk sepanjang minggu.
Bagi pemimpin usaha atau bisnis dan pengambil keputusan di bidang real estat korporasi, pertanyaan utama kini tidak lagi terbatas pada berapa luas ruang kantor yang dibutuhkan organisasi. Perusahaan juga perlu menilai apakah ruang tersebut telah dimanfaatkan secara efektif, mampu mengakomodasi perubahan pola kerja dan mendukung prioritas organisasi yang dapat diukur.
Workplace Strategy menawarkan kerangka untuk menjawab berbagai pertanyaan tersebut. Dengan menerjemahkan perilaku tenaga kerja, data okupansi, dan kebutuhan operasional ke dalam perencanaan tempat kerja yang efisien dan fleksibel, organisasi dapat menciptakan kantor yang berfungsi lebih optimal bagi karyawan sekaligus mendukung kepentingan bisnis.
Tantangan Perencanaan Ruang Perkantoran
Perencanaan kantor konvensional umumnya berfokus pada jumlah karyawan dan area kerja yang diperlukan. Namun, ketika karyawan kini membagi waktu untuk bekerja secara individual, berkolaborasi, menghadiri rapat, serta menjalankan sistem kerja fleksibel, perusahaan perlu melihat lebih dari sekadar kapasitas kantor. Perusahaan juga perlu memastikan bahwa ruang yang tersedia mampu mendukung beragam aktivitas dan cara kerja karyawan.
Perubahan ekspektasi karyawan turut membentuk kembali fungsi kantor. Kondisi ini menghadirkan tantangan bagi perusahaan untuk menciptakan tempat kerja yang mendukung kolaborasi dan kesejahteraan karyawan, tanpa mengurangi efisiensi ruang perkantoran, kinerja operasional, maupun efektivitas biaya.
Tantangan tersebut semakin relevan di Jakarta, seiring dengan langkah para penyewa untuk melakukan relokasi, menyesuaikan luas ruang perkantoran, dan meningkatkan kualitas kantor. Dalam mengambil keputusan tersebut, perusahaan perlu mempertimbangkan tidak hanya luas ruang yang dibutuhkan, tetapi juga kemampuan tempat kerja dalam mendukung pola kerja saat ini, kebutuhan karyawan, dan tujuan organisasi dalam jangka panjang. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz
