Pilpres 2024 Takkan Ganggu Bisnis Properti

0
169

Jakarta – Pengamat menilai bisnis properti tidak akan terganggu oleh penyelenggaraan hajatan demokrasi Pemilihan Umum (Pemilu) Presiden (Pilpres) Tahun 2024. Pilpres 2024 justru bakal meningkatkan pasar properti, asalkan berlangsung secara kondusif dan hasilnya sesuai harapan publik.

“Potensi bagi bisnis properti pasca Pilpres 2024 akan lebih bergairah, sepanjang pelaksanaannya kondusif dan hasilnya sesuai harapan masyarakat. Apalagi, saat ini angka backlog perumahan mencapai 9,9 juta keluarga yang belum memiliki rumah. Setiap tahun setidaknya 700 ribu hingga 800 ribu keluarga baru yang tentu juga butuh hunian,” tegas Chief Economist The Indonesia Economic Intelligence (IEI), Sunarsip dalam siaran pers, Rabu, 31 Januari 2024.

Sunarsip menjelaskan, mengacu dokumen visi dan misi para kandidat pasangan calon presiden dan calon wakil presiden periode 2024-2029 terlihat adanya komitmen yang tinggi terkait program hunian layak. “Berdasarkan dokumen visi dan misi para calon presiden dan wakil presiden periode 2024-2029, setidaknya sebanyak dua juta rumah akan dibangun setiap tahunnya oleh pemerintahan baru mendatang. Artinya, dua kali lipat ketimbang Program Sejuta Rumah dari Presiden Joko Widodo,” tutur Sunarsip.

Namun, Sunarsip juga melihat bahwa di tengah tingginya potensi bisnis perumahan dan properti, masih banyak tantangan yang akan menghadang. Ketersediaan lahan dengan harga yang terjangkau menjadi salah satu tantangan yang terbesar. “Ketersediaan dana murah yang match dengan karakteristik pembiayaan perumahan juga menjadi hambatan tersendiri bagi upaya penyediaan perumahan yang terjangkau bagi masyarakat,” jelasnya.

Persoalan lainnya adalah adanya keterbatasan jumlah pengembang dengan kualifikasi yang sesuai untuk menjadi mitra bisnis bagi pemerintah dan bank penyedia kredit. Untuk itu, Sunarsip mengusulkan agar pemerintah menerbitkan beragam kebijakan dan inovasi yang lebih inklusif bagi pelaku usaha sektor perumahan. Tujuannya tak lain untuk mengatasi berbagai tantangan dan hambatan bagi upaya penyediaan perumahan dan bisnis di sektor properti.

Peluang di Tahun 2024

Kondisi perekonomian domestik serta intervensi kebijakan dari otoritas tetap akan berdampak terhadap kinerja properti di Indonesia selama 2024. Mencermati sektor properti memberikan multiplier effect yang besar bagi perekonomian, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) pun memberikan perhatian besar terhadap keberlanjutan pertumbuhan sektor properti.

Terbukti, sejak November 2023 lalu, pemerintah kembali menerbitkan insentif fiskal berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN-DTP). Hal ini mengulang kebijakan serupa pada tahun 2021-2022. Bahkan, pemerintah memperluas cakupan insentifnya yaitu terhadap pembelian rumah pertama seharga sampai dengan Rp5 miliar. Namun PPN-DTP adalah untuk nilai pembelian maksimal sebesar Rp2 miliar per unit. Kebijakan tersebut berlaku hingga Desember 2024.

Sunarsip memperkirakan insentif fiskal berupa PPN-DTP dan kombinasi kebijakan lainnya yaitu pelonggaran LTV efektif meningkatkan kinerja sektor properti di 2024. “Hal tersebut bercermin dari pengalaman pada 2021-2022, dimana kebijakan insentif PPN-DTP terbukti meningkatkan pertumbuhan sektor ekonomi yang terkait dengan sektor properti, seperti sektor Konstruksi dan sektor Real Estate serta termasuk Konsumsi Rumah Tangga terkait Perumahan serta Investasi Bangunan,” tuturnya.

Sunarsip berpendapat, selain kebijakan PPN-DTP, faktor-faktor lain yang turut menjadi pendorong kinerja sektor properti pada 2024 ini adalah kenaikan demand dari end-user. Khususnya pada proyek perumahan tapak  serta tingkat suku bunga KPR yang akan tetap lebih rendah daripada sebelum pandemi Covid-19. “Pengembang dengan eksposur yang lebih besar pada rumah tapak (landed houses) dan kawasan industri (industrial land) akan mencatatkan pertumbuhan penjualan yang lebih tinggi,” ungkapnya.

Sunarsip memproyeksikan beragam kebijakan pemerintah dan BI itu akan mendukung pertumbuhan penjualan perumahan sebesar 5% hingga 10% pada tahun 2024.  Utamanya bagi pengembang besar. “Pengembang kelas menengah dan kecil juga akan ikut menikamati kenaikan pertumbuhan penjualan perumahan,” pungkasnya. (BRN)