Menkeu Jabarkan Tantangan Indonesia Jaga Pertumbuhan Ekonomi 2023
- calendar_month Minggu, 4 Des 2022
- print Cetak

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menjabarkan tantangan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2023. (Foto: Kemenkeu)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia di atas 5% pada tahun 2023 dihadapkan pada sejumlah tantangan.
“Undang-Undang APBN 2023 mengasumsikan pertumbuhan ekonomi 5,3 persen. Jadi kalau saya bicara 5,3 persen itu karena ada di dalam Undang-Undang APBN 2023,” kata Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati melalui keterangan tertulisnya, Jumat, 2 Desember 2022.
Lebih jauh Menkeu menuturkan, pertumbuhan ekonomi selalu ada upside risk dan downside risk. Selain itu, kondisi geopolitik juga memberikan dampak pada laju pertumbuhan ekonomi Indonesia.
“Namun sama seperti kita melihat setiap tahun, selalu ada upside risk, downside risk. Geopolitik juga menimbulkan dampak,” imbuh Sri Mulyani.
Beberapa tantangan global yang haru dihadapi tahun depan, antara lain ketidakpastian yang muncul dari ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina.
“Perang bisa menjadi turning point di tahun 2023 kalau kemudian terjadi negosiasi dan kemudian perangnya berhenti,” kata Menkeu.
Tantangan berikutnya berasal dari fenomena harga pangan dan energi yang masih tinggi sehingga meningkatkan inflasi global.
“Momentum pemulihan ekonomi dunia memang kemudian menjadi dimoderasi karena kenaikan inflasi global yang sangat tinggi,” ujar Menkeu.
Suku Bunga
Lebih lanjut, Menkeu mengatakan tantangan yang harus dihadapi adalah kenaikan suku bunga acuan, terutama dari Bank Sentral Amerika Serikat The Federal Reserve. Kenaikan interest rate dan pengetatan kebijakan moneter didesain untuk memoderasi sisi permintaan sehingga inflasi tidak bergerak liar.
“Dampak terhadap ekonomi di negara maju mungkin akan terasa sepanjang tahun 2023. Dampaknya kepada perekonomian kita adalah kalau interest rate tinggi, terjadi capital outflow,” urai Sri Mulyani.
Bank Indonesia (BI) mau tak mau harus melakukan penyeseuaian terhadap interest rate dalam negeri guna menghadapai tantangan global.
“Interest rate di dalam negeri, membuat Bank Indonesia terpaksa harus juga meng-adjust terhadap tren pressure global ini,” ucap Menkeu.
Hal tersebut juga menjadi tantangan terhadap iklim investasi yang harus menyesuaikan diri pada iklim suku bunga tinggi.
“Dampaknya ke dalam perekonomian tahun depan, seberapa resilient investasi kita tetap bisa bertahan dalam kondisi kecenderungan suku bunga akan lebih tinggi dibandingkan tahun ini,” pungkas Sri Mulyani. (SAN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz


