Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Tidak Mudah, Pengembangan Kota Baru Butuh Kriteria Jelas

Tidak Mudah, Pengembangan Kota Baru Butuh Kriteria Jelas

  • calendar_month Senin, 28 Agt 2023
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA – Kemajuan pembangunan 10 kota baru publik di Indonesia masih kurang optimal akibat menghadapi banyak kendala. Padahal, Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2019-2024 menargetkan setidaknya empat kota baru bisa terealisasi yakni di Maja (Banten), Sofifi (Maluku Utara), Tanjung Selor (Kalimantan Utara) dan Sorong (Papua Barat).

Founder SS Center, Soelaeman Soemawinata mengatakan membangun kota baru memang bukan pekerjaan yang mudah. Penguatan pusat-pusat pertumbuhan wilayah dan strategi pembangunan kawasan membutuhkan perencanaan yang benar-benar matang termasuk kriteria yang jelas. Selain itu, diperlukan basis kegiatan ekonomi dan konektivitas dengan kota penghubung (hub city).

Menurut Eman, demikian dia akrab disapa, parameter dan kriteria lokasi kota baru perlu disepakati dulu. Misalnya kota baru berjarak berapa kilometer dari kota inti yang menjadi pendukungnya, berapa jumlah penduduk dari kota inti yang ada di sekitarnya, dan aktivitas apa yang dapat membangkitkan ekonomi di kota baru tersebut sehingga orang mau pindah kesana? Lalu apakah ada aksesibilitas dan fasilitas seperti infrastruktur jalan, jaringan listrik dan air bersih.

“Secara teori, kriteria itu harus diperjelas dan diterapkan secara tegas. Tidak bisa sembarangan dalam menentukan lokasi kota baru, jadi alasannya harus kuat. Contoh orang mau pindah ke Serpong itu karena harga rumah di Jakarta makin mahal dan orang maunya tetap tinggal di rumah tapak (landed house),” ungkap Ketua Kehormatan Realestat Indonesia (REI) tersebut.

Dia tidak bisa memastikan apakah belum optimalnya pembangunan 10 kota baru adalah akibat kesalahan dalam pemilihan lokasi. Eman lebih menekankan pada apakah kriteria-kriteria (untuk membangun kota baru) sudah seluruhnya dipenuhi? Kriteria yang telah ditetapkan tersebut wajib dijalankan, termasuk dalam penentuan lokasi kota baru.

Jika tidak memenuhi kriteria dan tidak jelas untuk kepentingan apa kota baru itu dibangun, tegas Eman, maka sebaiknya jangan dipaksakan apalagi sampai memasang target yang tidak realistis.

“Kalau memang tidak perlu (dibangun kota baru) ya jangan dipaksa, karena membangun kota baru itu butuh pendanaan besar sekali. Harus ada alasan yang kuat bagi orang mau pindah ke kota baru misalnya di kota sebelumnya ada masalah kesehatan (polusi), penduduk terlalu padat, atau rawan bencana alam seperti banjir dan gempa,” ujar Board of Director Member FIABCI itu.

Soelaeman Soemawinata

Dalam beberapa kasus, menurut Eman, kondisi kota sebelumnya yang semakin padat dan harga tanah yang semakin mahal cukup ditanggani dengan melakukan perluasan kota ke wilayah di sekitarnya yang sudah dihubungkan dengan infrastruktur jalan baru dan jaringan fasilitas kota lainnya.

Pemerataan Ekonomi

Lebih lanjut dia menyatakan dukungannya terhadap upaya pemerintah yang sangat gencar melakukan pembangunan infrastruktur terutama jalan tol untuk memacu lebih banyak pertumbuhan sentra perekonomian di luar Pulau Jawa. Infrastruktur yang sudah dibangun tersebut harus dimanfaatkan secara optimal dan jangan sampai menganggur (idle).

“Yang perlu kita dorong adalah memunculkan sebanyak mungkin sentra ekonomi baru terutama di luar Jawa. Baik itu melalui pengembangan kawasan industri, kawasan ekonomi khusus (KEK) atau juga kota baru yang memiliki daya tarik ekonomi sehingga orang mau pindah keluar Jawa yang sudah cukup padat,” ungkap Ketua Badan Kejuruan Teknik Kewilayahan dan Perkotaan (BK-TKP) Persatuan Insinyur Indonesia (PII) tersebut.

Eman menyebutkan, pembangunan kawasan industri, KEK dan kota baru dapat menjadi salah satu cara paling efektif memunculkan pusat ekonomi baru di luar Jawa terlebih di Sumatera yang saat ini sudah didukung dengan jalan tol Trans Sumatera. Namun, pengembangan kawasan tersebut tidak bisa sepenuhnya diserahkan kepada swasta untuk membangunnya, tetapi tetap harus mendapat dukungan dari pemerintah terutama dalam penyediaan infrastruktur dasar. (MRI)

  • Penulis: Muhammad Rinaldi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Program Rumah Tapera per Juli 2023 Capai Rp13,5 Triliun

    Program Rumah Tapera per Juli 2023 Capai Rp13,5 Triliun

    • calendar_month Rabu, 2 Agt 2023
    • 0Komentar

    Jakarta – Realisasi Program Rumah Tapera FLPP per 31 Juli 2023 tercatat 120.169 unit rumah atau setara Rp13,46 triliun. Program tersebut tersebar di 9.096 perumahan besutan 6.176 pengembang di 386 kabupaten/kota di 33 provinsi di Indonesia. Dalam periode yang sama telah tersalurkan sebanyak 2.970 unit rumah setara Rp337,02 miliar dari Program Rumah Tapera. “Kami berupaya optimal […]

  • Fasilitas Kesehatan dan Kesejahteraan Jadi Prioritas di Perkantoran

    Fasilitas Kesehatan dan Kesejahteraan Jadi Prioritas di Perkantoran

    • calendar_month Kamis, 9 Des 2021
    • 0Komentar

    Jakarta – Saat ini lebih dari tiga perempat karyawan perkantoran berupaya untuk beradaptasi dalam menerapkan pola hidup sehat. Perusahaan yang tidak dapat melihat hal tersebut memiliki risiko kehilangan para pekerja potensial. Hal tersebut dapat mempengaruhi kinerja perusahaan secara keseluruhan. “Mendorong karyawan untuk kembali ke kantor tidak hanya menyangkut fleksibilitas, tetapi juga cara kerja yang inklusif […]

  • Presiden Joko Widodo sedang berdiskusi dengan Moh. Taufik pemilik rumah yang hancur akibat Bencana Gempa di Sulawesi Barat (Foto Lukas - Biro Pers Setpres)

    Pemerintah Akan Bantu Rumah Korban Bencana Sulbar Hingga Rp 50 Juta

    • calendar_month Rabu, 20 Jan 2021
    • 0Komentar

    Jakarta – Presiden RI Joko Widodo dalam kunjungan kerja untuk meninjau penanganan bencana gempa bumi yang terjadi di Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) menyatakan bahwa pemerintah pusat akan memberikan bantuan untuk perbaikan rumah warga yang mengalami kerusakan. “Untuk rumah penduduk yang roboh, pemerintah akan membantu untuk yang rusak berat Rp 50 juta, rusak sedang Rp 25 […]

  • realisasi investasi properti

    Realisasi Investasi Properti Tembus Rp26,7 T

    • calendar_month Minggu, 24 Jul 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Realisasi investasi sektor properti (Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran) mencapai Rp26,7 triliun di Triwulan II-2022. Badan Koordinasi Penanaman Modal (BPKM) mencatat, urutan pertama realisasi investasi baik PMDN dan PMA adalah sektor industri logam dasar, barang logam, bukan mesin dan peralatannya dengan nilai Rp48,2 trilun. “Data ini menunjukkan bahwa investasi sekarang yang sedang berkembang […]

  • Tagih Janji Kapolri, REI Riau Siap Bangun Rumah Polri

    Tagih Janji Kapolri, REI Riau Siap Bangun Rumah Polri

    • calendar_month Minggu, 7 Feb 2021
    • 0Komentar

    Jakarta – Pengembang yang tergabung dalam Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI) Riau bakal menyediakan fasilitas perumahan bagi personel Polda Riau dan Polresta Pekanbaru. Program penyediaan papan bagi personel Polri di lingkup Polda Riau dan Polresta Pekanbaru, Riau, ini sejalan dengan janji Kapolri Listyo Sigit Prabowo di depan Komisi Bidang Hukum DPR RI. “Kami mengajak seluruh […]

  • Ini Strategi Pengembang Synthesis Huis Dongkrak Penjualan Rumah

    Ini Strategi Pengembang Synthesis Huis Dongkrak Penjualan Rumah

    • calendar_month Jumat, 28 Okt 2022
    • 0Komentar

    JAKARTA – Pengembang Synthesis Huis menggandeng Adhya Group untuk membangun dan mengelola kawasan kuliner TENGAH Cijantung di lokasi proyek tersebut. Beroperasi pusat kuliner ini diharapkan mampu mendongkrak penjualan rumah di Synthesis Huis. Aldo Daniel, Managing Director Synthesis Huis mengatakan kehadiran pusat kuliner TENGAH di kawasan tersebut akan membuat Synthesis Huis menjadi lebih dikenal luas oleh […]

Translate »
expand_less