Sofyan A. Djalil Ditunjuk Jadi Wakil Komisaris Utama Intiland

Pendapatan dari pengembangan atau development income masih memberikan kontribusi terbesar bagi Intiland
0
162

JAKARTA – Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Intiland Development Tbk (Intiland; DILD) memberikan persetujuan pengangkatan Dr. Sofyan A. Djalil sebagai Wakil Komisaris Utama dan Komisaris Independen Intiland, serta menerima pengunduran diri Lennard Ho Kian Guan, Wakil Komisaris Utama Intiland.

RUPST untuk tahun buku yang berakhir 31 Desember 2022 berlangsung secara daring dan tatap muka di Intiland Tower, Jakarta, Rabu (24/5).

Archied Noto Pradono, Direktur Pengelolaan Modal dan Investasi Intiland menjelaskan bahwa selain perubahan susunan direksi dan dewan komisaris, agenda lain RUPST adalah persetujuan laporan tahunan dan pengesahan laporan keuangan untuk tahun buku yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2022, penunjukan Kantor Akuntan Publik Independen, serta penetapan remunerasi dewan komisaris.

Sofyan A. Djalil adalah Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional Republik Indonesia periode 2016-2022. Bergabungnya Sofyan A. Djalil akan memperkuat jajaran Dewan Komisaris Intiland dan pelaksanaan fungsi pengawasan serta penerapan tata kelola perusahaan yang baik.

“Beliau memiliki pengalaman dan keahlian yang luas di dunia bisnis, khususnya di sektor properti. Kami percaya dengan bergabungnya Bapak Sofyan A. Djalil akan memperkuat jajaran manajemen dalam rangka meningkatkan kualitas tata kelola perusahaan dan kinerja usaha secara jangka panjang,” kata Archied kepada wartawan usai RUPST.

Manajemen Intiland pada kesempatan itu juga menilai kondisi dan prospek usaha di tahun 2023 masih cukup menantang. Meski begitu, kinerja usaha perseroan selama kuartal I tahun 2023 cukup baik.

Berdasarkan laporan keuangan yang berakhir 31 Maret 2023, Intiland membukukan pendapatan usaha sebesar Rp1,54 triliun. Jumlah tersebut naik Rp981 miliar atau melonjak 174,3 persen dibandingkan pencapaian kuartal I tahun 2022 sebesar Rp562,5 miliar.

Peningkatan pendapatan usaha tersebut terutama ditopang oleh adanya pengakuan penjualan dari segmen pengembangan mixed-use & high rise, khususnya dari apartemen Fifty Seven Promenade. Selain itu, peningkatan tersebut juga dikontribusi dari segmen pengembangan lainnya, seperti kawasan perumahan, kawasan industri, dan properti investasi.

“Pendapatan usaha meningkat signifikan terutama karena adanya pengakuan penjualan apartemen Fifty Seven Promenade yang sudah proses serah terima,” kata Archied.

Pendapatan dari pengembangan (development income) masih memberikan kontribusi terbesar, mencapai Rp1,36 triliun atau 88,3 persen dari keseluruhan. Jumlah tersebut melonjak 246,5 persen dibanding perolehan kuartal I tahun 2022 senilai Rp393,4 miliar. Pendapatan pengembangan diperoleh dari tiga segmen yakni mixed-use & high rise, kawasan perumahan, dan kawasan industri.

Sumber pendapatan usaha berikutnya bersumber dari pendapatan berkelanjutan (recurring income) yang diperoleh dari segmen properti investasi. Sumber pandapatan usaha ini tercatat memberikan kontribusi Rp180 miliar atau sebesar 11,7 persen dari keseluruhan.

Pendapatan dari recurring income mengalami kenaikan 6,5 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu senilai Rp169,1 miliar.

Kontributor berikutnya berasal dari segmen properti investasi sebesar Rp180 miliar atau 11,7 persen dari keseluruhan. Pendapatan dari segmen ini mengalami kenaikan 6,5 persen dibandingkan perolehan kuartal I tahun 2022 senilai Rp169,1 miliar.

Segmen pengembangan kawasan perumahan mencatatkan kontribusi sebesar Rp134,1 miliar atau 8,7 persen dari keseluruhan. Kontribusi dari segmen ini menurun 19,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu senilai Rp166,1 miliar.

Kontributor berikutnya berasal dari segmen kawasan industri yang menyumbang pendapatan usaha Rp43,4 miliar atau 2,8 persen dari total. Jumlah tersebut mengalami penurunan 59 persen persen dibanding kuartal I tahun 2022 senilai Rp106 miliar.

Archied menuturkan peningkatan pendapatan usaha tersebut juga telah mendorong meningkatnya kinerja profitabilitas Perseroan. Laba kotor Intiland tercatat mencapai Rp746,7 miliar, atau naik 255,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laba usaha dan laba tahun berjalan masing-masing sebesar Rp663,9 miliar dan Rp391,7 miliar, atau mengalami peningangkatan 407,5 persen dan 492,9 persen.

“Laba bersih triwulan I tahun ini sebesar Rp30,4 miliar, atau membaik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang masih mengalami rugi bersih Rp72,7 miliar. Sebagian besar porsi laba tahun berjalan yang kami bukukan, diatribusikan ke kepentingan non-pengendali sebesar Rp361,3 miliar,” ungkap Archied.

Proyeksi Penjualan

Seiring dengan semakin kondusifnya kondisi perekonomian dan industri properti nasional, Perseroan menargetkan penjualan (marketing sales) tahun ini sebesar Rp2,4 triliun.

Perseroan akan menfokuskan upaya untuk mengejar target dengan meningkatkan penjualan stok unit atau inventori dari proyek-proyek berjalan maupun pengembangan-pengembangan baru di segmen highrise, kawasan perumahan dan kawasan industri.

Dijelaskan, saat ini pertumbuhan pasar properti masih ditopang oleh pembelian rumah tapak yang didominasi oleh pembeli akhir (end user).

“Sementara tren penjualan untuk pasar apartemen masih relatif tertahan dan tumbuh secara berlahan,” kata Archied.

Perseroan merencanakan pada tahun ini akan melakukan pengembangan baru pada sejumlah proyek- proyek, khususnya di segmen kawasan perumahan.

Diantaranya di proyek perumahan Amesta Living yang berlokasi di Surabaya, kemudian proyek Brezza di Pantai Mutiara Jakarta, pengembangan area komersial di perumahan Talaga Bestari, serta pengembangan klaster baru di Graha Natura, Surabaya. (MRI)