Budiarsa Sastrawinata, Sosok Dibalik Berdirinya Damai Indah Golf – BSD Course

0
692

KAWASAN Serpong sebelum 1989 silam merupakan hamparan kebun karet yang sangat luas dan sudah tidak produktif lagi. Kini, areal yang masuk Kecamatan Serpong dan Legok itu memiliki nilai ekonomis tanah yang berlipat ganda karena adanya pengembangan properti berskala kota mandiri yang kini dinamakan BSD City. Beragam fasilitas telah hadir di wilayah ini, antara lain sekolah dan kampus bertaraf internasional, pusat-pusat perekonomian. Bahkan, di kawasan ini pun beroperasi lapangan golf bertaraf internasional yaitu BSD Golf Course.

Ada kisah menarik yang melatarbelakangi pembangunan lapangan golf yang menjadi proyek perdana Jack Nicklaus, konsultan desainer lapangan golf kondang, di Indonesia. Sebagai desainer lapangan golf nomor wahid di dunia, wajar jika Nicklaus bersikap sangat selektif dalam memilih calon klien. BSD adalah salah satu yang merasakan sulitnya perjuangan untuk membujuk agar Nicklaus Design berkenan mendesain lapangan golf.

“Ada unsur kenekatan ketika merayu Jack Nicklaus. Kalau saya tidak nekat, mungkin Damai Indah Golf Course yang sekarang ini ada, bukan dibuat oleh desainer top asal Palm Beach, Florida, Amerika Serikat tersebut,” kata Presiden Direktur PT Damai Indah Golf Tbk., Budiarsa Sastrawinata, saat berbincang santai bersama Oki Baren dan Dani Muttaqin, redaksi industriproperti.com, di ruang kerjanya di Ciputra World 1, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Menantu Ir. Ciputra itu menyebutkan, setelah sukses mengembangkan Pondok Indah Golf Course, pihaknya ingin mendulang sukses yang sama di kawasan kota mandiri yang akan dibangun di wilayah Serpong. Namun, lapangan golf di pinggiran Jakarta itu harus punya daya tarik lebih besar ketimbang yang sudah ada di Pondok Indah. “Kalau tidak lebih baik, pasti orang ogah datang karena faktor jarak yang terbilang cukup jauh dari Jakarta. Pondok Indah Golf Course didesain oleh Robert Tren Jones Jr. Saat itu kami tidak pakai konsultan yang sama untuk di BSD,” ujar pria kelahiran Jakarta, 65 tahun silam.

Damai Indah Golf – BSD Course (Istimewa)

Kala itu, perusahaan belum memiliki akses komunikasi ke Nicklaus Design, sehingga Ciputra melayangkan surat permintaan kepada Nicklaus. Tapi apalah daya, gayung tak bersambut. Surat itu berbalas penolakan. Budiarsa kemudian diutus menemui Nicklaus untuk bernegosiasi ke markas sang desainer lapangan golf kaliber dunia itu. “Karena Rina (istri Budiarsa, putri tertua Ciputra) mau ikut, akhirnya saya tinggalkan dia dengan ketiga anak kami di Hawaii karena pertimbangan jarak yang sangat jauh. Saya sendirian melanjutkan perjalanan ke Florida untuk bertemu Nicklaus,” ujar Budiarsa.

Baca juga :  Zulfi S. Koto: Kolaborasi dan Kemauan Politik Kunci Sukses PSR

Kendati belum membuat janji bertemu, oleh sekretaris Nicklaus, Budiarsa diarahkan untuk menemui Senior Vice President Nicklaus Design. Di hadapan orang nomor dua di perusahaan konsultan lapangan golf itu, Budiarsa memaparkan rencana pembangunan padang golf di kawasan cikal bakal kota mandiri BSD.

“Senior Vice President Nicklaus Design itu tertarik dengan paparan saya itu, akhirnya memutuskan mempertemukan saya dengan bosnya. Saat itu saya diberitahu mengapa Nicklaus menolak permintaan kami untuk mendesain lapangan golf di BSD. Alasannya, dia belum pernah berkunjung ke Asia, kecuali hanya ke Jepang. Belakangan Nicklaus bersedia untuk mengikat kontrak itu,” kata kandidat World Vice Presiden FIABCI (Federasi Realestat Internasional) 2020 – 2021 ini.

Budiarsa bercerita tentang keluarganya.

Perjuangan Meyakinkan Kongsi 

Tantangan yang dihadapi Budiarsa belum berhenti sampai di situ. Ketika disodori draft kontrak, angka yang tertera membuatnya terpaksa berhitung ulang. “Nominal yang diajukan mencapai US$ 1,25 juta. Padahal, kontrak dengan Tren Jones hanya US$ 400 ribu. Saya ke Florida ditugasi untuk menegosiasi harga dengan Nicklaus maksimal hanya dua kali lipat dari angka itu,” ujar sarjana teknik sipil jebolan University of Plymouth (Plymouth Polytechnic), Plymouth, Inggris.

Tak kehilangan akal, ketika itu Budiarsa memutuskan memundurkan jadwal kepulangannya. Dia terbang ke Jacksonville, Denver, dan juga ke San Fransisco. “Saya temui Arnold Palmer Design Company. Saya temui Pete Dye, dan juga mengejar Johnny Miller. Jadwal kunjungan saya saat itu akhirnya menjadi lama sekali, hampir satu bulan lamanya. Si Nara (putra pertama Budiarsa), saat terakhir kali saya tinggalkan di Hawaii, masih belum bisa jalan. Saat saya jemput ternyata sudah bisa jalan,” kenang Sekretaris Jenderal Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI) periode 1989 – 1992.

Baca juga :  Budiarsa Sastrawinata Jadi Perwakilan FIABCI di UN

Singkat cerita, ketika presentasi di hadapan para pemegang saham BSD, semua akhirnya setuju dengan angka yang ditawarkan Nicklaus. “Memang ada sejumlah pertanyaan yang diutarakan para pemegang saham. Tapi akhirnya bisa diyakinkan sehingga pembangunan lapangan golf bisa dilaksanakan,” kata Wakil Ketua Umum Asosiasi Pemilik Lapangan Golf Indonesia (APLGI) periode 2018 – 2022.

Laporan Budiarsa dari hasil keliling Amerika Serikat selama hampir sebulan lamanyanya itu didukung oleh kongsi yang lainnya. “Pak Ciputra, Om Liem (Liem Sioe Liong) dan yang lainnya mendukung penuh. Malah, komentar Pak Anthony Salim (putra Liem Sioe Liong), perbedaan tarif itu hanya beberapa ratus ribu (US$) saja. Artinya, tarif itu masih relevan dibandingkan dengan potensi cuan yang dapat dicetak dari penjualan properti di areal lahan yang akan dikembangkan,” tegasnya.

Oleh sang maestro, Damai Indah Golf Course – BSD Course disebut dapat menjamin mobilisasi pemain secara bertahap. “Harapannya, ayunan tongkat pegolf yang rutin bermain di lapangan ini akan meningkatkan tee shot-nya sehingga permainannya tentu akan berkembang pesat,” ujar Nicklaus, dikutip dari laman resmi damai indah golf.

Jack Nicklaus

Jack Nicklaus (Istimewa)

Lapangan pertama di Indonesia yang dirancang oleh Jack Nicklaus ini terdiri atas 18 hole 72 par dengan panjang 6.454 meter. Damai Indah Golf – BSD Course memiliki filosofi “The Spirit of The Hill” dengan desain visual menarik, memadukan bukit hijau tropis dan bunker besar yang menantang.

Sifat perfeksionisme Nicklaus dituangkannya di Damai Indah Golf – BSD Course yang tercermin dari penempatan halangan dan rintangan yang dibuat. Pukulan pertama di sini harus benar-benar dilakukan dengan tepat untuk menghindari rintangan air ataupun bunker yang siap menyambut. Demikian pula dengan approach shot yang benar-benar mendarat di area yang tepat dan taktis karena putting green yang kerap menanjak. Fairway Damai Indah Golf – BSD Course terbilang lebar dengan bunker berada di sisi kanan atau kiri. Bunker di sini memang terlihat dangkal tapi pegolf harus tetap berhati-hati. (BRN)

EnglishIndonesian