Atasi Polusi Udara, Pengembang Dituntut Usung Konsep Eco Green Living

Di dalam Escala ini akan ada Forest Park yang dinamakan 'Rimba' seluas 4 hektar
0
113

TANGERANG – Isu polusi udara yang terjadi di Jakarta dan sekitarnya terus menjadi perhatian masyarakat. Berdasarkan data situs pemantau udara (IQAir), Indeks Kualitas Udara Jakarta berada di angka 149 pada Senin (18/9) pagi. Angka tersebut termasuk dalam kategori tidak sehat.

Hal tersebut diungkapkan Pengamat Tata Kota, Nirwono Joga pada acara Elevee Media Talkshow yang diadakan di Alam Sutera, Tangerang, Banten, Senin, 18 September 2023.

Menurutnya, angka itu menunjukan kondisi udara yang tidak sehat bagi kelompok sensitif yang merugikan manusia dan juga berdampak pada hewan dan juga tumbuhan. Menurut Nirwono, kondisi ini sebenarnya bukan sesuatu yang baru, karena Jabodetabek dan terutama Jakarta selalu menempati peringkat antara 1 sampai 3 dalam 5 tahun terakhir ini terkait polusi udara.

“Dalam 5 tahun ke depan di Jabodetabek akan tetap seperti ini kalau tidak ada action semua pihak. Terkait pembangunan kota, maka kawasan dengan udara bersih suatu keniscayaan, sehingga pengembang harus terus membangun kawasan eco green living,” jelasnya.

Untuk mewujudkan eco city atau eco living tersebut, kata Nirwono, ada 4 pilar yang menjadi pondasinya. Pertama, membuat kondisi yang nyaman untuk orang berjalan kaki, menuju satu tempat ke tempat lainnya, misalkan ke sekolah, pasar dan fasilitas lainnya.

“Di luar negeri ini sudah berkembang dengan istilah POD (pedestrian oriented development), kita dengan iklim tropis, sebaiknya pedestrian ini dipayungi oleh pepohonan, agar lebih nyaman,” jelas Nirwono.

Yang kedua, pembangunan kawasan perumahan itu harus berhubungan dengan lingkungan yang sehat, dari air dan udaranya. Ketiga, adalah membudayakan jalan kaki, tetapi di kota-kota di Indonesia jalan dibangun untuk kendaraan bermotor.

“Budaya jalan kaki, bersepeda dan menggunakan transportasi publik itu sangat kurang,” ungkapnya.

Terakhir adalah memberikan ekologi pada makhluk lain. Dengan udara bersih dan lingkungan sehat maka, hewan seperti burung akan menunjukan apakah udara bersih atau tidak. “Kalau kotor atau berpolusi maka burung akan lari dari sekitar kita,” jelas Nirwono.

Tuntutan Pasar

Sementara itu, Lilia Sukotjo Sales & Marketing Director PT Alam Sutera Realty Tbk menyebutkan berdasarkan survei yang dilakukan Alam Sutera, masalah lingkungan hijau atau green living selalu menjadi pertanyaan utama yang diajukan konsumen terutama kaum ibu yang selalu menanyakan dimana tempat untuk berolahraga atau jalur pedestrian mana yang aman untuk berjalan kaki.

Selain itu, hal lain yang ditanyakan adalah ruang terbuka hijau, desain rumah yang sehat dan keamanan kawasan.

“Sekarang orang aware dengan kesehatan. Oleh karena itu, Alam Sutera yang berdiri di atas lahan seluas 800 hektar terus ikut berperan memperbaiki kualitas lingkungan di Jabodetabek,” paparnya

Lilia menambahkan, sejak awal pengembangan kota mandiri Alam Sutera direncanakan dengan baik, sehingga keberlanjutannya berlangsung baik. Dia mencontohkan, sejak akhir tahun 1994, kawasan pedestrian sudah dikonsep termasuk pepohonan trembesi yang ada di pinggir jalan kawasan.

“Kami sangat setuju untuk mengurangi polusi dan membangun budaya jalan kaki, dengan istilah POD. Untuk itu, kondisi jalannya harus sehat, nyaman dan aman. Jangan sampai orang tersandung, masuk got atau jatuh di pedestrian. Makanya hirarki pedestrian di Alam Sutera berbeda-beda sesuai geografis area dan semuanya berkanopi pepohonan rindang,” paparnya.

Escala adalah salah satu produk kawasan terbaru di Alam Sutera yang luasnya mencapai 19 hektar. Kawasan ini akan menjadi ikon dan jantung Alam Sutera yang akan dikembangkan sebagai area green development.

“Untuk itu, hunian yang dikembangkan vertikal (Elevee Condominium) agar bisa mendapatkan banyak ruang terbuka. Di dalam Escala ini akan ada Forest Park yang dinamakan ‘Rimba’ seluas 4 hektar. Dan pedestrian sepanjang 1,75 kilometer yang mengelilingi Escala,” ungkap Lilia Sukotjo.

Alvin Andronicus, Chief Marketing Officer Elevee Condominium menegaskan bahwa motivasi konsumen membeli hunian di Elevee karena merasa nyaman akan lingkungan Alam Sutera yang mengusung konsep eco green living.

“Lingkungan kami ditopang oleh akses tol dan menerapkan prinsip POD. Ini sarana yang mumpuni bagi penghuni untuk berjalan kaki. Dan budaya jalan kaki, bersepeda ini telah menjadi kesadaran dan kegandrungan masyarakat,” ujarnya.

Untuk itu, terkait pemasaran tower selanjutnya, akan diluncurkan tower ketiga di Elevee Condominium yang memakai material double glass agar lebih ramah lingkungan. Selain itu, ceiling-nya lebih tinggi dari tower pertama dan kedua.

“Hingga saat ini marketing sales dari dua tower Elevee Condominium telah mencapai 80%, sedangkan serah terima tahap pertama kami jadwalkan pada awal 2025,” jelas Alvin. (MRI)