IKN Harus Lebih Menarik bagi Investor
- calendar_month Senin, 14 Des 2020
- print Cetak

Kota Jakarta (Istimewa)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Rencana pembangunan Ibu Kota Negara (IKN) yang baru membutuhkan anggaran yang tidak sedikit. Setidaknya diperlukan anggaran sebesar Rp466 triliun yang bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN), investor swasta, serta kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha (KPBU).
“Pengembangan IKN tidak boleh lepas dari kota-kota yang sudah ada. Pada tahap awal, kebutuhan penduduk di IKN akan sangat bergantung pada Kota Balikpapan dan Kota Samarinda,” ucap Wakil Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (DPP REI) Bidang Tata Ruang, Hari Ganie, saat menjadi pembicara Focus Group Discussion (FGD) bertajuk; “Harmonisasi Penyelenggaraan Perumahan pada Kawasan Ibu Kota Negara”, Jumat, 11 Desember 2020.
Rincian skema pembiayaan IKN yang dirilis Kementerian Keuangan adalah melalui APBN adalah 19,2 % atau sebesar Rp89,472 triliun. Kemudian melalui swasta dengan porsi 26,2% atau sebesar 122,092 % dan KPBU dengan porsi 54,6% atau sebesar Rp254,436 triliun.
Bagi pihak swasta, investasi pembangunan perumahan di ibu kota baru harus lebih menarik dibandingkan dengan investasi di kota lain, misalnya di kota sekelilingnya, seperti Balikpapan dan Samarinda.
Selain itu, yang tidak kalah penting adalah adanya kepastian investasi dan kepastian hukum. Perencanaan IKN juga harus mempertimbangan aspek non-physical planning seperti kepastian regulasi, iklim bisnis, dan kelembagaan.
Perencanaan tata ruang di lokasi Ibu Kota Negara baru juga perlu direncanakan dalam konteks regional. Terutama perihal jalur logistik, pertahanan dan keamanan, dan pengembangan wilayah di sekitar IKN. “Karena IKN baru berada pada Kalimantan Timur, maka perencanaan dan pengendalian tata ruang perlu mempertimbangkan perkembangan daerah–daerah yang berada pada pesisir ALKI II,” tambah Hari.
Senada dengan Hari, Managing Director President Office Sinar Mas Land Dhonny Rahajoe mengatakan, pembangunan IKN menciptakan peluang investasi yang menarik. “Kota yang baik adalah yang menjadi tujuan orang untuk investasi, untuk memiliki dan merawatnya,” katanya.
Lebih jauh ia menuturkan, kota yang baik adalah yang lebih futuristik, aman, bersih, nyaman dan lengkap fasilitasnya untuk ditinggali sehingga seseorang mau hidup lama di dalamnya. “Selain itu, warganya bisa saling berkomunikasi dan membentuk komunitas, memiliki daya saing yang kuat, tempat bekerjanya menyenangkan dan lebih baik segalanya dibanding kota lain di sekitarnya,” ucapnya. (BRN)
Penulis Sandiyu Nuryono
Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz
