S.D. Darmono-Legenda Pengembangan Kawasan Industri di Indonesia

Pengusaha properti, budayawan dan penulis
0
645

TERLAHIR dari keluarga pebisnis tekstil di Muntilan, Jawa Tengah, Setyono Djuandi Darmono justru mengukir prestasi membanggakan di industri properti. Dirinya merupakan Founder&Chairman PT Kawasan Industri Jababeka Tbk, dan merupakan salah satu legenda bisnis properti di Tanah Air.

Darmono, demikian dia lebih sering disapa, adalah pionir dalam pengembangan kawasan industri terpadu berskala besar di Tanah Air yang sukses mengembangkan Kawasan Industri Jababeka seluas 5.600 hektare di Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Di tangannya, kawasan yang dirintis sejak 1989 itu kini telah menjadi kawasan industri terbesar di Asia Tenggara.

Lahir di Yogyakarta, 71 tahun silam, langsung atau tidak langsung sangat memengaruhi kepekaan dan rasa Darmono terhadap kebudayaan Indonesia, khususnya budaya Jawa. Tak heran jika Darmono pun sangat dikenal sebagai seorang tokoh kebudayaan nasional.

Dia pernah dipercaya mengelola situs dunia Candi Borobudur, Candi Prambanan dan Istana Ratu Boko, serta mengepalai program revitalisasi Kota Tua Jakarta. Bersama sejumlah tokoh, Darmono juga mendirikan Tidar Heritage Foundation yang memiliki misi pelestarian budaya.

Di usianya saat ini, Darmono mengaku tidak terlalu banyak lagi mengurusi bisnis atau rencana ekspansi perusahaan. Semua urusan usahanya sudah diserahkan kepada anak-anaknya dan profesional di bidang properti. Waktu-waktunya justru lebih banyak bersentuhan dengan pengembangan kebudayaan dan juga menulis buku tentang masa depan bangsa dan negara.

“Yah begini ini, ngobrol dengan siapa saja yang mau diajak diskusi. Menjaga networking saja. Kan sehari-hari sudah ada direksi yang mikirin bisnis, jadi saya mengawasi dan memberi nasehat saja,” katanya dalam sebuah wawancara khusus dengan Muhammad Rinaldi seperti dikutip dari Majalah RealEstat Indonesia, beberapa waktu lalu.

Menurut Darmono, bangsa Indonesia harus peduli dan memikirkan kebudayaannya, selain keindahan alam yang dianugerakan Tuhan kepada rakyat Indonesia. Itulah daya saing yang dimiliki negara ini, tetapi sayangnya budaya dan keindahan alam kurang mendapat perhatian serius. Budaya kita malah impor, demikian juga musik-musik.

Baca juga :  2021, Pengembang Optimistis Bisnis Properti Masih Kinclong

Tapi hal itu bukanlah salah orang lain. Menurut Darmono, kondisi ini salah bangsa kita sendiri. Karena tidak menghargai dan tidak peduli kepada kebudayaan sendiri.

“Indonesia ini apa sih daya saingnya dibanding negara-negara lain? Kalau melawan Jepang atau Korea di bidang otomotif, elektonik, atau IT, kita pasti kalah. Kita sulit unggul di situ. Yang menjadi keunggulan kita bangsa Indonesia ini justru yang tidak pernah diperhatikan yakni budaya dan keindahan alam,” kata Darmono yang juga merupakan pendiri President University tersebut.

Namun, kata dia, usaha memajukan kebudayaan dan pariwisata jangan semata-mata hanya dituntut dari pemerintah, tetapi juga seluruh anak bangsa harus peduli, karena sebenarnya pemegang saham terbesar Indonesia itu adalah anak bangsanya sendiri.

Darmono juga seorang penulis aktif yang sudah melahirkan sejumlah buku yang memperlihatkan pemikiran kritisnya terhadap kondisi ekonomi dan kesejahteraan bangsa. Beberapa buku yang dia tulis antara lain buku berjudul Think Big Start Small Move Fast, Menembus Batas, 100 New Cities Indonesia, One City One Factory, dan Building a Ship While Sailing.

Membangun Kapal Indonesia

Di buku Building a Ship While Sailing, Darmono mengingatkan semua anak bangsa untuk selalu mawas diri, mengkaji ulang, melihat ke belakang apa yang sudah dilakukan, sekaligus menyiapkan langkah di masa mendatang.

Dia juga menceritakan bagaimana kerja keras dan pandangan visionernya dalam membangun kawasan Jababeka. Darmono tidak sungkan mengakui kalau dirinya banyak belajar dan terinsipirasi dari cerita sukses negeri jiran Singapura dalam membangun negara kota.

“Bagaimana city state itu sukses menjadi begitu makmur dalam tempo pendek, inilah salah satu poin penting yang perlu dicontoh Indonesia,” ungkap Darmono dalam buku tersebut.

Baca juga :  Rengkuh REI Exellence Award, Kota Lama Semarang Menuju Pentas Dunia

Dalam rentang waktu tiga dekade terakhir, dia telah mengundang banyak sahabat dan investor untuk mengembangkan kota otonom di Cikarang yang saat ini dikenal dengan nama Kota Jababeka. Sebuah daerah yang menjadi salah satu kota baru dengan kawasan industri terbesar di Asia Tenggara.

Darmono pun mengibaratkan Jababeka atau Cikarang tak ubahnya seperti microchip yang terintegrasi dengan kapal induk Republik Indonesia (RI).

“Sambil bekerja, sambil memperbaiki kesalahan-kesalahan di masa lampau, sambil mendidik generasi muda, sambil terus membangun, sambil bermimpi dan bekerja ulet membangun kapal RI yang sedang berlayar ini menuju tujuan bersama yakni kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya,” ungkap Darmono saat peluncuran buku tersebut.

Buku Building a Ship While Sailing ini seakan menjadi wadah untuk menuangkan hasil pengamatannya mengenai apa yang sudah dikerjakan bangsa ini selama hampir 75 tahun sejak Indonesia merdeka. Serta bagaimana seluruh rakyatnya harus terlibat sebagai kru dalam membangun kapal besar RI yang belum selesai dibangun, dan tak akan pernah selesai.

Salah satu komponen dan kru penting di dalam kapal besar RI itu adalah pengusaha properti. Dia mengajak pengembang terutama anggota Realestat Indonesia (REI) untuk mau membangun daerahnya masing-masing. Yang sudah sukses di perantauan, kata Darmono, mari pulang kampung membangun daerah dimana kita dilahirkan atau dibesarkan.

“Saya orang Magelang, saya bangun Jawa Tengah. Yang dari Aceh, Sumatera Barat, Kalimantan, Sulawesi, atau dari Papua ayo bangun daerah kamu masing-masing. Kalau ini bisa dilakukan, maka pembangunan Indonesia akan lebih cepat dan merata,” tegas pengusaha senior yang merintis karir dari level bawah terutama di bidang pemasaran itu.

Jika semua mau peduli dan memberikan sumbangsihnya kepada kemajuan bangsa dan negara, kata Darmono, maka dia sangat yakin kapal besar Indonesia semakin kuat, tangguh dan lebih cepat sampai membawa seluruh rakyatnya ke “pulau” kemakmuran.

Baca juga :  Guru Besar UGM: Perlu Perubahan Paradigma Pembangunan Perumahan

Dikutip dari Wikipedia, Darmono mulai terjun ke bisnis properti pada 1980, dengan mendirikan PT Permada Binangun Jaya, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang pengembang perumahan di Bintaro. Salah satu perumahan yang dibangunnya adalah Bumi Bintaro Permai Residence. Pada 1989 dia mulai membangun Kota Jababeka dengan membentuk konsorsium 21 pengusaha.

Selain kawasan industri terbesar di Asia Tenggara, Kota Jababeka menjadi sebuah kota yang terintegrasi atau disebut dengan istilah full integrated township. Pada 1994, PT Jababeka Tbk menjadi pengembang kawasan industri pertama yang go public di Indonesia. Bisnis Jababeka dibangun dalam tiga pilar yaitu pengembangan lahan, pembangunan infrastruktur, serta leisure and hospitality. (MRI)

EnglishIndonesian