Breaking News
light_mode
Beranda » Headline » Topang Pembiayaan Perumahan, Ketum REI Usulkan Dana Pendampingan

Topang Pembiayaan Perumahan, Ketum REI Usulkan Dana Pendampingan

  • calendar_month Sabtu, 8 Jun 2024
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

JAKARTA – Rencana pemerintah untuk menghimpun iuran wajib dari seluruh pekerja melalui Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) menuai perdebatan luas di ruang publik. Penolakan datang dari pekerja dan pengusaha karena menilai kewajiban tersebut sebagai beban di tengah situasi ekonomi yang sedang tidak baik-baik saja.

Ketua Umum DPP Realestat Indonesia (REI), Joko Suranto berpendapat perdebatan terkait iuran Tapera membuktikan bahwa masalah di sektor perumahan cukup kompleks termasuk soal pembiayaannya. Karena itulah, penyelesaian masalah perumahan rakyat tidak bisa lagi diatasi dengan setengah hati, tetapi harus menyeluruh termasuk secara kelembagaan. Tanpa institusi yang kuat, maka sulit diharapkan adanya regulasi yang baik termasuk kebijakan pembiayaan.

“Saat ini kita dihadapkan kepada angka backlog (kekurangan pasokan) perumahan hingga 12,7 juta dan angka itu dipastikan bertambah setiap tahunnya. Kita juga dituntut untuk terus memikirkan darimana sumber anggaran perumahan, karena APBN sangat limitatif. Lalu, seperti apa institusi (kelembagaan) yang mengurusi masalah di sektor perumahan ini?,” ujar CEO Buana Kassiti Group tersebut kepada wartawan di Jakarta, Jumat (7/6).

Menurutnya, rencana pemberlakuan iuran Tapera sebenarnya merupakan upaya pemerintah untuk mengatasi backlog perumahan. Pemerintah ingin penyediaan perumahan dapat dipercepat dan terjangkau oleh masyarakat. Kalau kemudian direspon beragam termasuk adanya penolakan dari masyarakat, Joko menilai hal itu disebabkan oleh tiga faktor yakni adanya distrust (ketidakpercayaan), historikal (sejarah dari pengalaman sebelumnya), serta minimnya sosialisasi kepada masyarakat.

“Jadi harus ada upaya dari pemerintah untuk mengelola isu-isu tersebut sebagai wujud transparansi,” ungkap Joko.

Di tengah penolakan masyarakat terhadap iuran Tapera dan belum berjalannya program tersebut, REI menegaskan bahwa pembiayaan perumahan harus tetap terjaga agar hak masyarakat untuk memiliki hunian yang layak dapat terwujud dan backlog perumahan dapat dituntaskan. Salah satunya dengan memberdayakan dana-dana masyarakat yang telah ada (berjalan) seperti dana pensiun, dana asuransi, dana jaminan sosial tenaga kerja, serta jika memungkinkan termasuk dana pengelolaan keuangan haji.

Dana-dana itu, jelas Joko, bisa digunakan tetapi tidak dalam posisi investasi langsung (direct investment) namun digunakan sebagai dana pendampingan. Nantinya, pemerintah dapat menerbitkan payung hukum berupa keputusan presiden, peraturan presiden atau peraturan pemerintah yang mengatur agar terhadap dana-dana tersebut minimal 5 persen harus ditempatkan sebagai dana pendampingan untuk memperkuat program pembiayaan perumahan.

Dana pendampingan ini, tegas Joko Suranto, bisa ditempatkan di bank yang telah diikat komitmen atau penugasan dari pemerintah untuk mendukung program pembiayaan perumahan. Namun dengan catatan tingkat suku bunganya sekitar 3 persen, sehingga bank dapat memberikan bunga kredit pemilikan rumah (KPR) yang terjangkau maksimal 6 persen untuk pembiayaan rumah di atas MBR (masyarakat berpenghasilan rendah) atau sampai dengan harga Rp500 juta. Pasalnya, ceruk pasar di segmen ini cukup signifikan mencapai 35 persen.

“Harus ada titik tengah (besaran bunga dana pendampingan) sebagai patokan sehingga dana yang dipakai untuk pembiayaan perumahan bisa berbiaya rendah dan terjangkau masyarakat,” jelas alumnus Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta tersebut.

Upaya Transformasi

Joko menilai langkah mendorong pemanfaatan dana-dana masyarakat yang sudah tersedia untuk dana pendampingan perumahan bisa menjadi upaya transformasi (perubahan) program pembiayaan perumahan sebelum tercapainya pertumbuhan pembiayaan lewat APBN maupun Tapera. Seperti diketahui, saat ini anggaran perumahan dari APBN hanya sekitar 0,4 persen dari total keseluruhan APBN. Anggaran tersebut sangat terbatas apalagi untuk membiayai target pembangunan 3 juta rumah yang nantinya menjadi program pemerintahan baru mendatang.

“Ini saran masukan dari REI sebagai bentuk urung rembuk dalam mencari solusi atas persoalan pembiayaan perumahan, sembari kita menunggu adanya penguatan dari APBN dan Tapera,” sebutnya.

Dengan adanya dana pendampingan, peningkatan anggaran perumahan dari APBN dan nantinya dari Tapera – Joko Suranto optimistis realisasi penyediaan perumahan nasional setidaknya mampu mencapai 1,5 juta unit per tahun. Sehingga masyarakat yang belum memiliki rumah dapat didorong dan berkesempatan untuk memiliki rumah sendiri, karena pemerintah sudah menyiapkan stimulus dan insentifnya. (MRI)

  • Penulis: Muhammad Rinaldi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PUPR Mulai Garap Konstruksi Jalan Tol MNP

    PUPR Mulai Garap Konstruksi Jalan Tol MNP

    • calendar_month Rabu, 9 Feb 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bersama Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) mulai mengerkajan konstruksi pembangunan Jalan Akses Tol Makassar New Port (MNP) tahap I dan II. Jalan Tol MNP ini akan meningkatkan konektivitas Pelabuhan MNP dengan jalan tol eksisting sehingga waktu tempuh transportasi peti kemas empat kali […]

  • Ini Tantangan Perkotaan di Masa Depan

    Ini Tantangan Perkotaan di Masa Depan

    • calendar_month Rabu, 9 Nov 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Wilayah perkotaan di masa mendatang menghadapi tantangan seputar perubahan iklim serta problem kemacetan. Pemanfaatan ruang di wilayah perkotaan dapat lebih optimal melalui pembentukan Ruang Terbuka Hijau (RTH) dan pembangunan berorientasi Transit Oriented Development (TOD). “Beberapa tantangan ke depan wilayah perkotaan seperti adaptasi iklim, kemacetan, pemanfaatan ruang yang tidak optimal, dan lain-lain. Terlaksananya TOD […]

  • kondisi properti

    Kondisi Properti Masih Wait and See

    • calendar_month Minggu, 5 Jun 2022
    • 0Komentar

    Jakarta – Akselerasi pemulihan ekonomi di tanah air dan menunjukkan tren yang sangat positif sejak akhir Februari 2022. Namun, mulai membaiknya situasi perekonomian nasional saat ini belum diikuti oleh sektor properti. Hal ini terlihat dari penurunan permintaan dan suplai dari penyedia properti yang terlihat bersikap wait and see. “Turunnya permintaan karena faktor musiman didukung data […]

  • Tips Pilih Ubin Marmer Bikin Rumah Jadi Mewah

    Tips Pilih Ubin Marmer Bikin Rumah Jadi Mewah

    • calendar_month Selasa, 16 Mar 2021
    • 0Komentar

    Jakarta – Siapa tak kenal marmer? Harganya yang relatif mahal mampu menghadirkan nuansa elegan sehingga tampilan rumah menjadi terkesan mewah. Penggunaan ubin marmer berkualitas juga dapat menghadirkan kesejukan pada hunian. Ubin marmer berkualitas premium identik dengan tampilan yang benar-benar mengkilap, tidak berlubang atau memiliki rongga-rongga yang cukup rapat. Ciri-ciri ini dapat terlihat secara kasat mata. […]

  • Kawasan Summarecon Crown Gading

    Summarecon Crown Gading Hadirkan Beragam Fasilitas Baru

    • calendar_month Kamis, 14 Nov 2024
    • 0Komentar

    Jakarta – PT Summarecon Agung Tbk melengkapi kawasan Summarecon Crown Gading dengan meluncurkan beragam fasilitas penunjang guna menghidupkan kawasan properti terpadu berskala kota. “Kehadiran beragam fasilitas di kawasan Summarecon Crown Gading menjadi bukti komitmen kami untuk menghidupkan kawasan tersebut. Kehadiran fasilitas ini diharapkan akan menjadikan Summarecon Crown Gading sebagai destinasi unggulan terbaru seperti pengembangan lain […]

  • Jepang Diminta Tingkatkan Partisipasi Pendanaan Infrastruktur Hijau

    Jepang Diminta Tingkatkan Partisipasi Pendanaan Infrastruktur Hijau

    • calendar_month Rabu, 6 Sep 2023
    • 0Komentar

    Jakarta – Pemerintah Jepang diajak meningkatkan kontribusi pendanaan pembangunan infrastruktur di kawasan ASEAN. Utamanya pendanaan infrastruktur konektivitas dan infrastruktur hijau. “ASEAN membutuhkan investasi infrastruktur senilai USD184 miliar per tahun. Pemerintah Jepang diharapkan dapat meningkatkan kontribusinya pada ASEAN Infrastructure Fund dan ASEAN Catalytic Green Finance Facility untuk mendukung konektivitas dan infrastruktur hijau,” kata Presiden RI Joko Widodo […]

Translate »
expand_less