Breaking News
light_mode
Beranda » Internasional » Investasi Real Estat Komersial Asia Pasifik Tembus USD27,3 Miliar

Investasi Real Estat Komersial Asia Pasifik Tembus USD27,3 Miliar

  • calendar_month Kamis, 15 Agt 2024
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta – Volume investasi menunjukkan pertumbuhan tahunan untuk ketiga kalinya secara beruntun pada Q2 2024. Hal ini menandakan bahwa investasi real estat komersial di wilayah APAC mulai pulih dari penurunan pada tahun 2023.

“Investasi real estat komersial di Asia Pasifik naik 2% secara tahunan (YoY) pada Q2 2024 menjadi USD27,3 miliar, menandai pertumbuhan kuartalan ketiga kalinya secara berturut-turut di kawasan tersebut,” jelas CEO Asia Pacific Capital Markets JLL, Stuart Crow dalam keterangan tertulisnya, Rabu, 14 Agustus 2024.

Menurut data dan analisis dari perusahaan konsultan real estat global JLL (NYSE: JLL), volume investasi pada semester I/2024 mencapai USD57,5 miliar, meningkat 7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Sektor perkantoran masih menjadi yang paling aktif, dengan volume investasi mencapai USD10,7 miliar pada kuartal kedua. Pertumbuhan ini didukung oleh sektor ritel dan hotel, yang juga mencatat pertumbuhan dibandingkan tahun lalu. Volume ritel Asia Pasifik naik 12% secara tahunan menjadi USD4,6 miliar dan sektor hotel tumbuh 19% secara tahunan menjadi USD5,7 miliar untuk semester I/2024.

Jepang merupakan pasar paling aktif di wilayah tersebut, dengan transaksi sebesar USD5,8 miliar pada kuartal kedua, didorong oleh lonjakan pemesanan hotel seiring pelemahan nilai tukar yen dan kedatangan turis yang meningkat pesat.

“Suku bunga pinjaman masih menjadi pemberat sentimen di seluruh Asia Pasifik. Meskipun demikian, aktivitas transaksi di sektor perkantoran mulai menggeliat dan momentum peningkatan transaksi terlihat menguat,” imbuh Stuart Crow.

Dia melanjutkan, ditambah dengan kuatnya pertumbuhan penyewaan di banyak pasar dan ekspektasi keuntungan dari pemotongan suku bunga yang sudah diantisipasi diharapkan meningkat, sehingga akan mendorong sentimen investor.

Volume Investasi

Volume investasi lintas negara di Asia Pasifik mencapai USD7 miliar pada semester pertama 2024 (kuartal kedua: USD3,6 miliar), turun 38% secara tahunan (YoY), karena sebagian besar pasar didominasi oleh investor domestik. Namun, modal lintas negara cenderung mengarah ke investasi hotel, dengan semua aktivitas lintas negara di Jepang pada kuartal kedua merupakan investasi hotel.

Pada kuartal kedua, China dan Hong Kong menjadi pasar yang didominasi oleh investor domestik, hampir tidak ada investasi dari luar negeri, karena penurunan ekonomi China dan situasi geopolitik membuat investor asing mengambil pendekatan wait and see.

Singapura (USD1,9 miliar) dan Australia (USD5,4 miliar) mencatat pertumbuhan investasi tahunan, masing-masing sebesar 31% dan 73%. Di Singapura, penjualan strata mendominasi transaksi kantor, dengan penyewa dan kantor keluarga aktif mencari peluang investasi.

Namun, aktivitas investasi institusional di Singapura tetap relatif lesu karena kurangnya likuiditas pasar. Di Australia, alokasi modal untuk aset kantor dan industri mengalami rebound, didorong oleh sejumlah penjualan institusional besar, dengan volume industri mencapai level kuartalan tertinggi sejak Q4 2021, dan sektor kantor pada level tertinggi sejak Q3 2022.

Sementara itu, Korea Selatan mencatat penurunan 5% pada volume investasi di semester I 2024, setelah volume investasi di kuartal II hanya mencapai USD3,5 miliar. Volume investasi di sektor perkantoran dan logistik masih terlihat lesu karena para investor mengambil sikap hati-hati meskipun jumlah properti yang terdaftar di pasar semakin meningkat.

Pusat data juga menjadi sektor yang menonjol, khususnya di Asia Tenggara, di mana investasi pada sektor ini di Asia Tenggara menyumbang 52% dari total investasi di Asia Pasifik. Malaysia dan Vietnam telah menjadi lokasi utama untuk investasi pusat data karena harga tanah, tenaga kerja, dan listrik yang lebih rendah dibandingkan Singapura. Hal ini meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing bagi penyedia pusat data.

Prediksi

Dengan harapan bahwa US Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada bulan September, diprediksi bahwa biaya pinjaman di beberapa pasar di kawasan ini akan ikut turun.

“Ditambah dengan perkembangan pesat di sektor pusat data Asia Tenggara dan kebijakan moneter yang lebih mendukung, kami semakin optimis melihat prospek investasi real estat komersial di kawasan ini,” ujar Head of Investor Intelligence, Asia Pacific, JLL Pamela Ambler.

Penulis

Lulusan ilmu kimia Universitas Negeri Jakarta ini aktif menjadi reporter. Memulai karier dari indopos, kemudian juga pernah bekerja sebagai wartawan di infobank, inilah.com, hingga majalah Realestat. Sekarang, Sandi bergabung menjadi salah satu wartawan industriproperti.com untuk berbagi soal isu – isu terkini di sektor properti. Sahabat IP yang ingin tahu dan kenal lebih jauh dengan ayah dari dua anak ini bisa follow Instagram @Sandy_Yukz

Rekomendasi Untuk Anda

  • Perda Retribusi PBG Kota Pekanbaru segera Terbit Awal 2022

    Perda Retribusi PBG Kota Pekanbaru segera Terbit Awal 2022

    • calendar_month Selasa, 21 Des 2021
    • 0Komentar

    Pekanbaru – Pemerintah Kota Pekanbaru, Riau, akan menerbitkan Peraturan Daerah (Perda) Retribusi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) awal tahun depan. Sedianya, perda pengganti Izin Mendirikan Bangunan (IMB) Kota Pekanbaru terbit akhir tahun ini. “Semula kami menargetkan selesai akhir tahun ini. Tapi karena adanya putusan judicial review  Mahkamah Konstitusi (MK) atas sejumlah pasal Undang-Undang Nomor 11 Tahun […]

  • BP Tapera: Industri Perumahan Masih Menjanjikan di Tahun Depan

    BP Tapera: Industri Perumahan Masih Menjanjikan di Tahun Depan

    • calendar_month Senin, 19 Des 2022
    • 0Komentar

    JAKARTA – Meski tetap diperlukan kewaspadaan, Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) optimistis industri perumahan khususnya perumahan subsidi masih menjanjikan di tahun depan. Hal itu didasari beberapa indikator positif yang bisa memacu program perumahan nasional. Komisioner BP Tapera, Adi Setianto mengatakan beberapa indikasi positif di tahun 2023 antara lain pertama secara year to date […]

  • Menparekraf Sandiaga Salahuddin Uno

    MICE Jadi Andalan Pariwisata Selama 3 Tahun Terakhir

    • calendar_month Selasa, 3 Sep 2024
    • 0Komentar

    Jakarta – Industri MICE (meetings, incentives, conferences, dan exhibitions) masih menjadi andalan sektor pariwisata dan ekonomi kreatif dalam tiga tahun terakhir. Hal ini karena peranan Indonesia sebagai tuan rumah dari sejumlah event bergengsi dunia. “Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah berjuang sehingga kita ada di titik ini. Bersyukur bahwa Bali melalui kepulihan yang lebih cepat […]

  • BP Tapera

    Skema Baru Belum Terbit, BP Tapera Tetap Salurkan KPR FLPP

    • calendar_month Kamis, 6 Feb 2025
    • 0Komentar

    Jakarta – Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) dipastikan masih akan menyalurkan pembiayaan Kredit Pemilikan Rumah Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (KPR FLPP) dengan skema lama, yakni 75% bersumber dari APBN dan sisanya 25% dari bank pelaksana. Komitmen tersebut disuarakan seiring belum terbitnya skema proporsi KPR FLPP yang baru. “Pemerintah memang ingin melakukan redesain terhadap […]

  • btn kpr

    BTN Dukung Penyaluran Akad KPR 26.000 Rumah Subsidi

    • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
    • 0Komentar

    JAKARTA – PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk atau BTN kembali menunjukkan komitmen mendukung pemenuhan kebutuhan hunian layak dan terjangkau bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) melalui penyaluran kredit pemilikan rumah (KPR) dan pembiayaan subsidi melalui program Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) untuk 26.000 unit rumah di seluruh Indonesia. Akad massal KPR dan penyerahan kunci rumah […]

  • Wow! Inggris Terapkan Aturan Leasehold 990 Tahun

    Wow! Inggris Terapkan Aturan Leasehold 990 Tahun

    • calendar_month Jumat, 26 Feb 2021
    • 0Komentar

    Jakarta – Inggris telah melaksanakan reformasi peraturan properti terbesar selama 40 tahun, dengan memperpanjang leasehold (atau yang dikenal di Indonesia sebagai Hak Guna Usaha, Hak Guna Bangunan, atau Hak Pakai) dari maksimal 99 tahun menjadi 990 tahun tanpa biaya ‘sewa’. Ada dua perbedaan status kepemilikan atas properti, yakni pemegang freehold memiliki tanah serta bangunannya. Sedangkan, […]

Translate »
expand_less